MEREKA MENYEBUTNYA CINTA TERLARANG


Dari 3 episode terakhir, aku sudah mulai bisa menerima akhir cerita yang mengurai air mata ini

Mereka memang tidak bisa bersama

Mereka memiliki kehidupan di zaman mereka masing-masing

Ini adalah titah langit

Meski hati mereka gentar, ini adalah fakta yang harus mereka hadapi

Mereka tegar dan meyakinkan hati bahwa kisah mereka dipertemukan adalah kenangan indah anugrah takdir pemilik kehidupan

Arghhhhhhhhhhhh

Aku juga…

Sudah kusiapkan hati ini untuk berpisah

Aku akan sangat merindukanmu yuchun…sangat…swangat…swanga~ttt…hiks

begitu juga han ji min

aku menyukai kalian untuk pertama kalinya dari kisah ini

Semoga bahagia dan kekuatan selalu diberkahi kepada kita semuaa…

Hwaaa~

Aamiiin…

 

…true love will find its way.. true love is always there waiting for them,in whatever form or whatever way,but destiny will still remind as destiny, unchanged..

-noriko- http://www.dramabeans.com/2012/05/rooftop-prince-episode-20-final/

Kaja~


Untuk Berbuat Baik Perlukah Alasan2

Kesejukan Esplanade


Adalah ketika mencebur kedalam kolam depan.Kapan lagi kann? Mumpung ke Singapur.

Image

 

CUMA KARENA UANG? MUNGKIN MEMANG BEGITU


Salahkah jika si saya ini selalu berusaha memahami mereka yang menjual dirinya untuk uang? Untuk makan, untuk bersenang-senang, untuk kepuasan apapun. Seonggok kata prostitusi, yang jika si saya boleh menyingkirkan kata itu dari muka bumi maka ingin sekali si saya melakukannya. Tapi apalah arti sebuah kata, jika kerjanya masih saja hidup.

si saya ini baru mengenal kata saritem dan arti sebenarnya ketika kuliah di kota kembang. Kata yang tidak indah dan tidak ear-catching itu dan yang menurut si saya tidak menjual itu malah laris sampai telinga pejajan se nusantara bahkan mancanegara.

Haizz.

Thankslah untuk Tuhan Allah swt yang memberikan lorong hidup yang damai dan penuh kebaikan dan keberkahan untuk si saya. Si saya tidak pandai dalam berdoa, tapi jika boleh meminta ya Tuhan, izinkan pejajan  dan yang menjajakan sadar dan kembali menuju hidup yang sesuai titahMu.

ARSITEK HARGA MATI


Acara Kick Andi yang menghadirkan Ridwan Kamil barusan menjadi bahan bakar penyemangatku untuk terus menjadi pribadi yang produktif. Belajar San belajar, kerja kerja. Kataku dalam hati. Aku menatap langit-langit rumah sejenak dan bergegas ke kamar. Bukan untuknya, aku hanya ingin menjadi teman dan sahabat karena satu mimpi kami.

——–

Pasar Mampang bagian luar tiap malam memang selalu ramai dipenuhi pedagang kaki lima. Beberapa pembeli terlihat semangat menawar harga.  Dua bocah perempuan yang kutaksir masih SD itu pun tak mau kalah menawar pada penjual jam tangan.

“Pak, 10 ribu lah…nanti kalau kami sudah jadi Arsitek bapak kami kasih bonus deh” kata bocah berambut ikal sambil membawa gitar kecilnya.

“Iya pak, iya. Pacar kami akan pergi jauh ke luar negeri. Ini kenang-kenangan yang ingin kami beri” tambah si bocah berambut lurus yang membawa kecrekan.

Aku yang sedang berjalan santai melihat-lihat pedagang yang berjualan dipinggir jalan ini tertawa geli di dalam hati di dekat mereka. Berjalan menjauh, gelak tawa penjual jam masih jelas terdengar bahkan mungkin juga terdengar oleh pedagang dan orang-orang yang lewat disekitarnya.

“HAHAHAA…bonus mbahmu…sekolah dulu yang bener sana kalau mau jadi arsitek. Nangis nanti mak bapakmu tau kalian beli jam buat mainan pacaran doang” kata penjual jam tak kalah semangat.

Mereka hanya menjawab dengan diam.

Aku menghentikan langkahku tertarik mendengar lanjutan percakapan mereka. Kupura-purai tertarik pada kaos yang dijejerkan disamping penjual jam itu. Sambil memegang-megang bergantian beberapa kaos, zona penglihatanku mampu menangkap bocah berambut lurus yang menunduk lesu menatapi jam yang ia pegang. Sesekali ia tatapi penjual jam dan temannya yang berambut ikal.

“Hhhh….emang hasil ngamen kalian hari ini cuma 10 ribu?” tanya penjual jam karena mungkin mulai iba atau sedih juga karena tak ada pembeli yang meramaikan dagangannya. Kenapa hanya dua bocah ini. Mungkin begitu gerutunya dalam hati. Atau mungkin itu juga bentuk syukurnya karena masih ada calon pembeli dagangannya. Hanya dia manusia yang tahu.

“iya pak,,,,” kata mereka berdua lesu.

 

Aku meninggalkan penjual kaos dan ikut melihat-lihat jam. “Silahkan mbak, dipilih-dipilih” kata penjual itu kepadaku penuh semangat. Meskipun penjual jam tahu aku belum tentu beli, tapi semangatnya menerima calon pembeli….aku sangat senang. Ahhh, memang seperti itulah mental penjual seharusnya. Aku hanya tersenyum mengangguk-angguk.

Aku bisa melihat jam bertali coklat tua dari bahan kain tebal yang tidak terlihat begitu spesial. Bahkan menurutku, jam berwarna hijau army yang aku pegang ini terlihat lebih gagah. Aku meletakkan jam hijau army itu dan mengambil paksa jam coklat dari genggaman rambut lurus dengan mudah. Tanpa memedulikan ekpresi mereka dan penjual jam aku  memikirkan sesuatu sambil memerhatikan jam itu dengan seksama.

“Kenapa kalian ingin jadi Arsitek?” tanyaku pada dua bocah itu sambil masih memegang jam yang ingin mereka beli.

Dua bocah itu saling menatap dan tidak langsung menjawab. Dengan ekspresi sebal, rambut ikal malah bertanya, “Terus, kenapa kakak menjambret jam kami?”

———-

“San, liat itu” kata Randi menunjuk papan reklame yang terpasang memenuhi pagar jembatan penyebrangan yang baru kami lewati. Aku baru sadar ada papan itu.

“Kenapa? Cuma iklan rokok bukannya” kataku tanpa takjub

“Hmm..yahhh, modelnya ganteng juga sihh” tambahku

“Haaahaha…makanya sono cari pacar, yang diliat gantengya doang sihhh” kata Randi.

“Apa hubungannya? Males lah gue terikat sama orang lain, nggak bebas, Ran” kataku

“Ngeliat lo yang putus macar lagi putus macar lagi aja, udah bikin gue males pacaran.  Nggak usah ngurusin gue deh. Lo tu mendingan yang bener kalo macarin anak orang. Kalo nggak serius nggak usah dipacarin lah” kataku sambil menghabiskan es krim ditangan.

Randi yang dari tadi berdiri ikutan duduk di halte tempat kami biasa menanti bus untuk pulang sekolah, “Yaahh san, kalo serius mah, nikah langsung deh gue”

“Hah? Jadi emang lo nggak pernah serius ama mantan-mantan lo itu selama ini?”

Randi mengangguk.

“Ama yang sekarang?”

Randi cuma nyengir.

“Jangan bilang putus lagi?” tanyaku

“pingpong, 100!” katanya

“Huhhhh….Capek gue ama orang ini kalo ngebahas beginian” kataku

Randi masih tetap cuma nyengir.

“Padahal menurut gue Rina itu cewek yang okee dan…”

 “Udah lah, kenapa jadi ngebahas ini sih. Nih ya San, gue kasi tau, cowok yang lo bilang ganteng di papan reklame itu Ridwan Kamil”

“Buset dehh…gue juga bisa baca namanya di Papan itu, Ran” kataku menyanggahnya

“Bentar, gue belom selesei. Dia itu salah satu arsitek terbaik di Indonesia. Karyanya nggak Cuma di dalam negeri, ahhh..ngefans gue lah. Dia bahkan menyabet gelar arcitect of the year gitu di majalah elle decor magazine”

“waww” kataku antusias.

“Setelah gue selidiki, dia itu tenyata dosen ITB”

Aku tetap menyimaknya sambil membuang batang es krim di tempat sampah halte itu.

“Jadi? Apa kita masuk arsitek Itb aja?“ tanyaku

“Nahh, itu dia. Gue sih masih pingin di Arsitek UI, nggak tega ninggalin nyokap di rumah sendirian. Tapi itu masih belum pasti lahh. Pokoknya orang itu bikin gue mantep jadi arsitek yang handal”

Aku mengangguk-angguk, “Hmmm….oke, kalo gitu deal” kataku

“Deal apanya?” Randi bingung

Aku berdiri dan menatap Randi penuh semangat, “Deal kalo kita harus jadi Arsitek yang hebat”

Randi juga berdiri, “Oke…yeaaa”

“Yeaaaaa” aku tak kalah semangat. Kami mengangkat kedua tangan kami di halte yang agak ramai itu.

“Ehh, itu bisnya dateng” kataku

———–

Sambil kembali memerhatikan jam yang aku genggam dan menatap penjual jam, “Menjambret jam kalian?”

“Calon jam kami maksudnya” kata bocah berambut ikal sambil menunduk.

Aku hanya tersenyum dan mengembalikan jam itu ke mereka, ke rambut lurus. Setelah jam ada di mereka, rambut ikal kembali bilang ke penjual jam, “Yaudah pak, boleh nggak jam yang ini disimpen dulu, nggak lebih seminggu deh pak, soalnya minggu depan pacar kami itu udah pergi. Yah pak yaa” kata si rambut ikal mengiba memohon. Mereka berdua memasang tampang memelas dengan tangan memohon di depan dada.

Huhh. Desahku dalam hati. Aku kembali ikut campur.

“Emang jam itu harganya berapa pak?” tanyaku kepada penjual jam sambil menunjuk jam yang dipegang si rambut ikal.

Kedua bocah itu terlihat kaget lagi.

“Itu 25 ribu, mbak”

“Hahh,,,nggak boleh mbak, ini udah kami pesan. Nggak boleh” kata rambut ikal. Si rambut lurus mengagguk-angguk.

“Kalian ini kebanyakan nonton sinetron yaa, pikirin yang baik-baik ajalah” kataku

“Terus, kenapa mbak nanya harga jam ini?” tanya rambut ikal

“Ahhh, jangan-jangan mbak mau mbayarin buat kita yaaa?” tanya rambut lurus.

Sebelum aku tersenyum lebar mengiyakan, mereka berdua kompak berkata “Itu juga nggak boleh, mbak”

Aku yang kaget sekarang, “Kenapa?”

“Kami maunya ini beneran hasil payah kita ya, ras” kata rambut ikal.

Si rambut lurus mengangguk-angguk.

“Hmmm…begitu” kataku

Aku mengambil paksa jam coklat di genggaman rambut lurus lagi.

“Mbak ini hobbi bikin kaget kami yaa” kata rambut ikal.

“Okeee…”kataku puas sambil mengembalikan jam itu ke rambut lurus.

“Gimana kalo jam ini saya beli sekarang juga. Jadi kalian gak perlu khawatir jamnya dibeli orang lain. Nanti kalian yang membelinya dari saya” kataku

Kedua bocah itu saling menatap. Si rambut ikal yang pandai bersilat lidah itu kembali berbicara “Terus kami nemuin kakak gimana?” tanyanya yang tidak tetap menyapaku dari kak, mbak dan kak lagi.

“Kalian tinggal dimana?” tanyaku

“Kami bisa tinggal dimana saja kok kak. Tapi kami sering tinggal di belakang pom bensin itu” kata rambut lurus menunjuk pom bensin di ujung perempatan lampu merah dekat kami berdiri.

“Rumah kakak jauh?” tanya si rambut lurus

“Hmm…jalan kaki 15 menit dari sini”

“Oke,,,sekarang kami kesana saja. Nanti kalau uang kami sudah cukup, kami akan menjemput jam itu dirumah kakak”

“Kalian tidak apa-apa pulang larut?” tanyaku

“Tenang saja kak, kami ini kan pengamen. Meskipun masih kecil kami tetap saja pengamen. Biar kami yang menjemput jam itu di rumah kakak” kata rambut ikal

“Begitu? Oke, ayo berangkat” kataku setelah membayar jam itu ke penjual jam.

Kami bertiga pun berjalan menuju rumahku setelah membeli jam itu. Kami melewati barisan ojek dan mengikuti jalan yang penuh lampu jalan yang tak membuatnya terang, tapi boleh juga jika kukatakan itu terlihat sangat romantis. Tidak berkelap-kelip. Tapi entah kenapa, angin malam ini terasa begitu lembut membuatku hanyut dalam perspektif cakrawala pohon yang anggun. Begitu melankolis dan menyentuh sanubari.

Kedua bocah itu berjalan riang didepanku. Ketika melewati pertigaan mereka selalu bertanya, “Lurus kak? Atau belok”

“Emangnya pacar kalian itu sama? Kok jam yang dibeli cuma satu? Terus kenapa harus yang berwarna coklat?” tanyaku diperjalanan kami.

Rambut lurus yang akhirnya aku tahu bernama Laras hanya menjawab dengan anggukan.  Dan Rena si rambut ikal menambah dengan senyuman lebar. Mereka tidak menjawab pertanyaanku.

“Terus, kalian tadi emang bener pingin jadi Arsitek?”

Mereka mengangguk kompak.

“Kenapa?”

Sebelum mereka menjawab, deheman seseorang dibelakang membuatku menoleh. Si pemilik dehem pun mempercepat langkahnya dan berjalan disampingku. Dengan jeda yang dapat diabaikan, aku langsung menyapanya,

“Ran!” penuh sumringah

Sepersekian detik kemudian, gelombang suaranya kuterima,

“Darimana, San?” tanyanya.

Gelombang ini meluluhlantahkan telingaku. Hatiku pun dibuatnya tak mampu tuk berirama dengan tenang. Skala richternya mungkin melebihi 1000. Ahhh, dia. Itulah dia. Teman sekaligus senior di sekolah yang dari SMP kami dipertemukan dalam satu organisasi. Tapi aku harus tetap terlihat biasa tanpa basa-basi. Kharismaku tak boleh dikalahkan oleh badai suaranya. Karena kami ini teman baik. Aku tidak ingin merusak pertemanan dan persahabatan yang telah lama kami jalin.

Tapi sebelum aku menjawab, dua bocah itu langsung menyapanya

“Kak Randi?”

Mereka langsung memeluk kaki Randi. Laras di kiri, Rena dikanan.

“Kak Randi, kak Randi lagi ngapain?” tanya mereka berdua

Aku heran, “Kalian kenal?”

Tapi mereka berdua tak menggubrisku. Dan Randi hanya tersenyum. Itu pun tersenyum pada dua bocah itu.

“Kalian lagi ngapain disini?” tanya Randi dengan mengelus-elus kepala mereka. Pemilik-pemilik kepala itu hanya menunjukkan muka girang dan bahagia seperti mendapat es krim gratis dari surga. Kami tetap berjalan. Kaki Randi kini sudah bebas dari cengkraman tangan-tangan kecil.

“Kak Randi beneran bakal pergi jauh yaa, keluar negeri yaaa?” tanya rambut ikal

“Ke negeri penjajah yaa?” tambah rambut lurus.

“Bukan negeri penjajah, negeri mantan penjajah” katanya

Sepertinya aku mulai mengerti.

“Ran, maksudnyaa? Jadi?”                                                        

Sambil menggandeng kedua bocah itu, Randi mencoba menjelaskan segalanya.

“Gue pingin ngasi tau lo lusa sebenernya pas lo ulang tahun, tapi lo beruntung, tau duluan” katanya nyengir.

“Beruntung apanya? Masa dua bocah ini tau duluan? Hayoo…jangan macarin dua bocah sekaligus lah Ran. Pilih salah satu” ledekku.

“Nanti kita juga bakal gede ya, Ren” sanggah Laras padaku.

Rena mengangguk penuh.

Randi cuma nyengir.

“Yaaa, meski gue gak keluar negeri, kan gue bakal lulus jugaa. Udah belajar yang bener, nanti tahun depan lo bisa nyusul gue ke Jepang atau tetep kuliah di Indo”

Kami mulai berjalan ke arah rumah ku. Tapi sebelum sampai, kami melewati rumah Randi. Di depan rumahnya, aku bisa melihat ceweknya yang terbaru, Katrin yang sedang duduk di teras. Aku selalu ingin terlihat tegar. Karena aku adalah teman terbaiknya.

 “Pokoknya jangan lupa perjanjian kita yaa…” kata Randi sebelum masuk rumahnya

“Arsitek terbaik? “tanyaku

“Arsitek terbaik!”

“Kalo nanti lo masuk arsitek itb, mintain tanda tangan Ridwan Kamil ya san” katanya yang entah serius atau tidak.

“Siap!!” Kataku sambil hormat.

 

 

-Tamat-

NGGAK NYANGKA, TERNYATA GUE TERKENAL JUGA [penipuan yang semakin niat]


Setelah mengambil nomer antrian, gue duduk di kursi menanti panggilan. Untunglah GMC lagi sepi. Padahal harusnya hari ini bisa langsung pulang ke Jakarta. Tapi gue malah ngilangin gelas kimia dan pompa yang statusnya baru bakal jelas sore ini.

Arghhhhhh.

Gue tukerlah Baht dan SGD sisa yang sebenernya pingin disimpen. Lumayan dapet 70ribuan. Bisa beli gelas kimia. Gue mengambil handphone dan mengetik pesan menanyakan tempat beli gelas kimia didaerah tubagus ke nurul dan khadijah. Sebagai anak kimia dan farmasi, mereka pasti tahu.

Ditengah mengetik pesan, nyokap nelpon. Gue denger suara nyokap yang sendu dan sedih kaya abis nangis. Pertanyaannya seolah habis mendengar gue kena petaka. Segitu khawatirnya. Nyokap banget lah kalo lagi khawatir.

“Beng, gimana kabar kamu sekarang?”

Gue bingung dengan pertanyaan dan iramanya.

“haahhh? Ma’e kenapa kaya abis nangis gitu?”

Suaranya masih sendu.

“loh,semalem kamu nelpon sambil nangis kaan kalo kamu ditangkep polisi….”

Gue cuma ketawa-ketawa cekikian sambil terus mendengarkan nyokap yang bercerita dengan suara yang masih sendu dan sedih.

“kamu bilang sambil nangis, ma..sekarang sandra  lagi dikantor polisi. Huhuuhu. Ya mae hawatirkan. Kamu kenapa beng? Kenapa? Udah nangis kan mae semalem. Bingung. Kenapa anak mae ini. Terus gantian polisinya yang ngomong.

Ibu tenang, ibu. Di tas anak ibu ditemukan narkoba. Kami menangkapnya dikosan temennya. Mereka lagi berdua.

Bingun kan mae. Terus pae yang ngomong, dan polisinya minta 85 juta. Dan mereka minta dikirim malem itu juga. Karena pae bilang nggak ada uang. Polisnya nurunin jadi 55 jutan dan terahir 50 juta. “

Gue masih terus ketawa geli. Gini deh tipe nyokap yang polosnya total. Dan bokap yang meskipun polos tapi masih lebih bisa berkepala dingin.

“Udah mih, kan sandra  sekarang nggak kenapa-kenapa. Belom ngirim duit berapapun kan?”

“iya belom”

“yaudah, sandra  nggak kenapa-kenapa kook. Lagian kenapa nggak nelpon sandra  semalem?”

“soalnya udah ada suara kamu. Mirip suaranya. Atau mae yang udah bingun nggak bisa mikir yaa. Jadi nggak ditelpon.”

“yaudahh, untungnya belum dikirim juga kaan. Nggak papa koook. Sandra  amaan. Insya Allkah.”

“yaudah, kalau gitu. Kamu jug hati-hatiiii. Jangan nerima kalo dikasih apa apa sama orang dijalann”

“siiiip. Iyaa”

Huhhh, penipuan jama sekarang emang makin niat yaa. Ahhh tapi, tapi, gue terkenal juga yaa ternyata. Nggak nyangka.

MENATAP LANGIT SABUGA 14 APRIL


menatap langit sabuga 14 april

AKHIRNYA (GAGAL) WISUDA

CERITA BOM


Jaman SD, Bom sok sok mencari tantangan. Saat itu, Bom dengan sepeda pinjaman bersama teman-teman masa kecil bersepeda di sebuah belokan yang curam. Untuk orang dewasa juga curam kok, mereka selalu berhati-hati saat melewati jalan itu.

Tapi saat itu, Bom tidak berhasil mengumpulkan rasa percaya diri yang besar. Ada rasa ragu dan takut. Teman-temannya pun sebenarnya khawatir.

Yakin, Bom? Tanya mereka begitu.

Jalan itu sempit. Untuk dua buah motor saja, mereka harus pelan dan ada yang harus mengalah berhenti. Tapi saat itu, keadaan memang lagi sepi-sepinya, tidak banyak motor dan orang-orang yang berlalu lalang. Jadi mereka bisa leluasa bermain. Dua orang teman pria Bom di depan sudah berhasil menaklukan belokan curam itu. Bom masih diam diatas. Bom menekan-nekan rem tak santai dan kaki menginjak-injak ke aspal mengumpulkan energi. Meskipun energi itu tidak terkumpul juga. Teman-teman yang lain memperhatikannya. Tari dibelakang Bom cuma berucap,

Ayo, Bom!

Bom menarik nafas panjang dan meluncur. Benar, Bom masih punya satu tekad, NEKAT. Ziuuuuuu…..belok kiri, ziuuuu..belok kanan…..jedar!

Hasilnya, bibir Bom malah berdarah, tulang kaki dan badan sebelah kiri Bom remuk. Bom tersungkur di teras rumah orang dibawah turunan. Bom selalu berfikir, itu adalah tentang percaya diri dan bagaimana Bom percaya sepeda yang Bom pakai saat itu.

Oleh karena itu, Bom memberinya nama Daya. Nama panjangnya Lodaya. Bom sadur dari nama sebuah Kereta Api trayek Bandung-Jogja. Yang artinya macan. Tidak ada alasan khusus nampaknya, itu karena Bom hobbi naik kereta saja. Begitulah. Dia adalah sepeda hitam yang menemani Bom sejak November 2009 silam. Bertahun-tahun kemudian setelah Bom tersungkur itu. Tapi mereka berdua tidak pernah selalu bersama sesetiap hari itu juga. Karena medan di kota tempat mereka bersama sekarang ini, Bandung, menanjak dan menurun tiada henti. Bom memang masih payah tentang itu soalnya.

Masih harus mengumpulkan percaya diri, Bom? Mungkin.

Tidak ada yang spesial dan berbeda selama Bom bersepeda selama ini. Bom tak pernah bertemu pria tampan atau mendapat uang segepok selama bersepeda.

Bom paling cuma keliling-keliling kota Bandung yang bermedan naik-turun itu. Dan kalau ke kampus, Bom lebih suka berangkat naik sepeda karena medannya turunan, tapi kalau pulang, Bom lebih banyak menyerah. Jadi sepeda Bom lebih banyak bermalam di kampus dari pada di kosannya karena jarang Bom bawa pulang.

Perjalanan bersepeda Bom terjauh selama ini cuma sekitar 10 km. Waktu itu dari kampus ke rumah seorang teman di Ujung Berung. Pada perjalanan pulang, Bom malah menitipkan sepeda Bom disana. Dan selang beberapa bulan kemudian, barulah sepedanya kembali, itu pun karena dibawakan ayah temannya itu dengan mobil.

Suatu ketika, ada juga seorang teman yang mengajaknya bersepeda, jalur kali ini DAGO-LEDENG. Ini trayek naik gunung namanya. Yaah, Ledeng masih di kakinya kaki gunung Tangkuban Perahu sih tapi tanjakan sudah tak terperi. Mereka pun berhenti di kampus UPI Bandung dan membuka lapak. Tidur menatap langit di atas rerumputan dan menarik nafas panjang.

Dalam perjalanan ke UPI itu Bom dan temannya malah sering menemui pesepeda yang sudah tampak sepuh dan generasi terdahulu. Bahkan perjalanan mereka masih lanjut keatas. Dahsyat sekali.

Ini baru pepatah benar, bersusah dahulu baru bersenang kemudian. Karena perjalanan pulang bagi mereka adalah badai rahmat Tuhan. Mostly turunan. Itu jalur ke arah utara kota Bandung.

Jika bersepeda ke arah selatan, barulah bersenang senang dahulu bersusah susah kemudian.

Suka suka kamu terpincut untuk memilih yang mana.

 

Bandung, November 2011

TRAVELER WANITA


Kok berani tho.

Kamu yakin bisa sampe?

Weleh,weleh…nanti gimana disana?

Kamu ini perempuan lho!

Ada temen nggak?

Gimana kalo nyasar?

Waduuh..janganlah, bahaya!

Menjadi seorang traveler wanita memang tidak bisa dinafikan memiliki lebih banyak keruwetan. Tapi jangan khawatir! ini masalah tentang back to nature sih. Based on yourself and your family. Seberapa besar jiwa petualang yang kamu miliki dan seberapa kamu bisa memberikan kepercayaan kepada orangtua yang kamu cintai. Selain bergantung pada yang maha kuasa, seorang traveler pria maupun wanita absolutely berpegang hidup pada peta. Backpaker tanpa peta itu seperti orang bodoh saja.

JAKARTA PERLU MRT ATAU SKYTRAIN?


Ini perlu pengkajian yang mendalam memang. Tapi sekilas dilihat begitu saja dengan sense rasa dan mata pengalaman saya selama ini sebagai penduduk yang (terpaksa) setia dengan moda transportasi umum: dibandingkan bus yang manusiawi (BM), kereta yang manusiawi (KM) mampu mengurangi keletihan dalam perjalanan apalagi untuk jarak jauh. BM menurut saya memiliki dampak keletihan yang lebih besar terutama akibat lebih terasanya getaran mobil saat berbelok. Apalagi jika bertemu dengan kondisi jalan yang macet. Yahh, seperti transjakarta misalnya.

Dengan kiprahnya selama ini, trans-J masih saja sering mengalami kemacetan dibeberapa jalur karena tidak bisa se-eksklusif itu, seperti daerah pondok indah misalnya. Meskipun kondisi ruang bus ber-AC, tapi suasana kemacetan yang tampak dari dalam, memberikan tekanan terhadap penumpang untuk turut gelisah dan cemas. Dan terlintaskan pikiran:

Kapan jalannya ya?

Apa solusinya pakai kaca buram saja? Nggak bermaksud begitu sihh. Hanya saja, dengan kereta yang tidak mengalami kemacetan, tentu, pengguna moda transportasi akan dibuat lebih menikmati perjalanan. Karena diberikan sense:

Perjalanan lancar lho.

Katakanlah Bangkok. Saat ini, Bangkok sudah memiliki 3 jenis transportasi umum yang saya acungi jempol: 2 jalur BTS (Skytrain), 1 jalur BRT (bus rapid transit cem trans-J), 1 jalur MRT (subway, train) dan 1 jalur ARL (Airport Link, train).

Saya tidak bermaksud kita perlu ikut2an seperti bangkok. Kita perlu menjadi diri sendiri kok. Tapi juga harus berkembang dan terbuka. Dan memang harus dipikirkan lebih jauh seberapa butuhkah Jakarta terhadap moda-2 kereta traffic free-helper itu.

Tapi menurut saya, moda transportasi bangkok tersebut sangat mempermudah penggunan moda umum. Saya juga tidak tahu bagaimana bangkok punya uang banyak. Tapi yahh, lets say, emang sudah mereka anggarkan dan uang sendiri.

Perlu banyak data akurat sih kalo ngomongin ini.

Cuma menurut saya sendiri sihh (sotoy), kepentingan keren-kerenan yang harus kita dahulukan adalah anggaran untuk pendidikan.

So far, trans-J udah oke kok, udah ada 10 jalur. Mengalahkan jalurnya bangkok yang hanya 4 jalur.  Ini lagi pingin membandingkan sama Bangkok. Yah, sesama developing country dulu lah. masa ngebandingin sama jepun, singapur, atau negara maju lain. Nggak suka awak. Nggak level soalnya. Its too far. Nggak bermaksud pesimis lho. Cuma, kita perlu realistis dan berjalan perlahan tapi pasti maju. Heehe.

Kalau memang tak ada anggaran, kita tak perlu pinjam. Buat saja apa yang bisa kita buat dari uang kita. Dengan mengutamakan sekali lagi, pendidikan untuk semua rakyat indonesia.  ~yeah