Sampai tak berjumpa!

wholesomeness

Bukan tanpa alasan. Nasehat guru untuk mengecek gigi ke dokter gigi selama enam bulan adalah sesuatu yang berarti. Ini semata-mata demi kesehatan kita bersama, sebagai murid didiknya. Maka beruntunglah bagi anda yang memiliki orang tua yang peduli dengan kebersihan dan kesehatan gigi anda, anaknya.

Seperti pepatah lama, tidak ada kata terlambat. Selama Allah masih memberikan kita kesempatan hidup maka itu berarti masih ada kesempatan bagi kita untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Kesempatan hidup adalah anugrah dan kesempatan yang diberikanNya agar kita bisa memperbaiki dosa.

Seperti itu pula dengan gigi. Berapapun usia kita saat ini, jangan hawatir. Bagaimanapun kondisi gigi kita saat ini. Yang penting. Cek sekarang juga gigi anda ke dokter gigi. Dengan begitu, kita akan tau gigi kita punya masalah apa. Apakah baik-baik saja, apakah butuh penambalan, pencabutan atau yang lain. Quotes lebih baik mencegah daripada mengobati tidak akan pernah out of date.

Hari itu pun gue ke dokter gigi.

“wah, wah….gigi kamu harus dicabut ya….” Kata dokter itu.

“iya dok” setelah gue jelasin bahwa gue harusnya datang berbulan-bulan yang lau.

Dokter pun langung beraksi. Ia membersihkan gigi yang akan dicabut dan memberikan biusan disekitar gigi itu. Sebelum membius, dokter malah mengecek gigi disamping gigi bolong itu.

“wahwah, kamu masih punya gigi susu?” shoknya

“haha? Iya gitu dok?” gue juga gak paham.

“iya…udah mahasiswa kok masih punya gigi susu. Harusnya udah dicabut dari umur 10 tahun.”

“Ohhhh,,,gitu ya dok..heeehe”

“terus gimana dong dok?

“cabut juga aja ya?

“hahhh? nggak deh dok,,sesuatu banget kalo dua gigi saya dicabut bersamaan. Huxxx”

“yaudah, sekarang yang bolong dulu aja ya”

“Sip dok, tapi emang gigi susu harus dicabut ya?”

“hmm,,,sebaiknya, tapi tergantung giginya juga. Kalo kuat gak papa gak dicabut. Kalo kamu nih,hmmm goyang goyang lho”

“nggak papa dok” gue cuma nyengir.

Pencabutan pun dimulai. Dokter itu benar benar membius area gigi yang akan dicabut. Suntikan bius begitu sakit. Cepat sih. Tapi tetap aja berasa sakit. Agak menahan rasa sakit. Hix. Suntikan pertama. Ces. Suntikan kedua. Ces. Suntikan ketiga. Ces.

Fiuhhhhh….

Dokter pun mengetok ngetok gigi yang akan dicabut.

“Gimana, sakit?”

“ Nggak dok” Kataku.

Ketokan posisi lain digigi yang sama.

“Sakit?”

“Nggak dok”

Ketokan ketiga, “Sakit?”

Aku tetap menjawab, “Nggak dok”

“Bagus, kalo gitu kita mulai ya”

Doter mengambil sesuatu. Gue mulai menahan meskipun alat itu belum masuk kedalam  mulut dan mencabut sesuatu darinya.  Ia mulai masuk dan menarik dengan begitu heboh, tidak sakit awalnya. Tapi gue merasa ada yang menarik dengan tanpa ragu. Grek grek.

“huuhuu..dok,,,sakit”

“jangan ditahan,,,,,relax aja”

gue coba untuk relax. tetap aja. Tapi gue sekaligus menarik nafas panjang dengan mulut tetap menganga. Bunyi suara gigi dengan alat terdengar dengan jelas. Hix, seperti seseatu tulang yang di patahkan. Helloww. Sakit pastinya. Meskipun sudah dibius, huuhu, begitu lah ya. Tetap sakit.

Cabutan kedua. Cabutan ketiga. Akhirnya selesai juga. Dokter lengsung memasukkan kasa kedalam gigi yang baru dicabut.

“iyak, gigit ya….”

“setelah ini, jangan makan dulu, jangan minum selama setengah jam. Setelah itu, minum atau kumur2 kalo mau solat juga jangan teralu heboh biar gumpalan darah di daerah cabutan tidak hilang”

Aku tidak bertanya kenapa. Cuma mengangguk angguk, siap dok!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s