Sudah 45 Tahun, Bung! Mau Menunggu Berapa Abad Lagi?

suka suka

Kekuasan dan sanjungan adalah dua hal yang manusia lemah karenanya. Keduanya, jika kita tidak bersikap arif, justru akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Prestise, itulah mungkin yang dicari. Lembaran hitam sejarah Indonesia tahun 1965 silam mungkin adalah bagian dari keinginan manusia akan prestise yang semu yang dampaknya harus segera diselesaikan. Sudah 45 tahun, Bung! Mau menunggu berapa abad lagi?

Peristiwa G30S-1965 memang berakar dari masalah yang bertujuan untuk menggulingkan Soekarno dan pendukungnya. Sejak tahun 1949 semenjak Soekarno memimpin bangsa ini, semakin lama, arus pemikiran presiden pertama RI itu cenderung kearah komunisme. Seperti slogan yang ia gaung-gaungkan, Nasakom, Nasionalis Agama Komunis. Kecenderungan ini dapat menghambat keinginan Barat untuk menguasai dunia yang saat itu dalam kondisi perang dingin paska perang dunia ke-2. Jika Soekarno terus dibiarkan, ia bersama dunia ketiganya, dapat menjadi peluru perak yang dahsyat.

Peristiwa G30S ini memang masih menjadi misteri yang belum tersibak. Kepingan-kepingan fakta yang ada tidak bisa disatukan begitu saja. Ada yang saling kontradiktif. Memang tidak mudah mengetahui kebenaran yang menyeluruh dari peristiwa tersebut. Sebab, meminta maaf dan mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah. Menunggu pelaku yang masih hidup untuk berterus terang mengakui kesalahannya pun cukup mustahil. Oleh karena itu, kita harus berfokus pada rehabilitasi korban G30S. Memberikan kebebasan. Dan itulah mungkin yang mereka inginkan.

Permasalahan ini adalah kasus yang basi. Orang-orang yang tidak terlibat dalam peristiwa tersebut tentunya berjumlah lebih banyak daripada orang-orang yang terlibat, dan mereka yang tidak tau menau ini tentunya sudah tidak ambil pusing terhadap masalah ini, toh tidak ada kaitannya dengan mereka. Untuk para mahasiswa saja misalnya: mengurusi tugas-tugas dan ujian saja sudah bikin repot dan menghabiskan waktu mereka, sampai begadang-begadang, kapan lagi harus memikirkan permasalahan yang sebenarnya mungkin ingin mereka bantu, tapi terdistract oleh masalah-masalah akademik. Ini hanya sebuah bukti bahwa perkara G30S ini sudah selayaknya untuk diselesaikan. Karena masih banyak tantangan yang harus kita selesaikan.

Saya tidak pernah memandang aneh pada teman-teman yang memiliki orientasi akademik. Sebab bangsa ini tetap membutuhkan mereka untuk memajukan bangsa ini juga. Setiap orang punya peran, Anda, saya, mereka. Yang perlu kita lakukan hanya melakukan yang terbaik untuk profesi kita sekarang, saya lebih suka menyebutnya dengan Integritas dan Totalitas.

Membuka luka lama permasalahan basi ini tentunya akan melukai berbagai pihak. Tapi jika luka ini tak segera diobati, bukan tidak mungkin akan menusuk si penderita itu perlahan-lahan. Ketidakpuasan yang terjadi mungkin akan menyulut perpecahan lagi. Bukankah sejarah adalah peristiwa masal lalu yang seharusnya menjadi cermin untuk mengembangkan negeri ini kedepannya. Jika yang terjadi tetap perebutan kekuasaan antar elit politik. Percuma, negara ini akan tetap stagnan. Padahal, jika tujuan tiap partai adalah sama, sudah selayaknya kita semua mendukung presiden terpilih untuk melakukan tugasnya dengan baik. Mengevaluasi dengan tegas dan mendukung program kerja yang direncanakan.

Saat ini, presiden juga harus tegas menyikapi persoalan ini. Tidak untuk menyudutkan pihak manapun. Tapi ketegasan presiden harus ditegakkan. Apakah dampak yang terjadi dengan begitu banyak yang dikorbankan untuk sebuah prestise harus dibiarkan selamanya mengawang-ngawang? Jika 3 juta nyawa menjadi korban hanya untuk kursi kepemimpinan, memang terlihat konyol. Tapi  sejarah ini tidak boleh terulang. Dampak dari peristiwa ini saja harus segera diselesaikan.

Jika minta maaf adalah serendah-rendahnya pertaubatan, maka minta maaflah. Tapi jika permintaan maaf ini pun tidak dilakukan. Sungguh, tak bisa dibiarkan. Memang ada banyak sekali pihak yang terlibat dengan tujuan masing-masing. Tapi, sudahlah, ada hal-hal lain yang harus kita selesaiakan untuk perbaikan bangsa ini. Jika masalah yang sudah 45 tahun saja, tidak bisa dipertegas, bagaimana kita bisa fokus menghadapi tantangan zaman ini, bencana, kemiskinan, pendidikan, ekonomi, pengelolaan sumber daya dan tantangan lain yang harus kita hadapi dengan kepala tegak.

Selesaikanlah, seperti negara tetangga, Korsel yang dengan tegas memutuskan perkara 2 mantan presidennya: Chun Doo-hwun dan Roh Tae Woo. Masalah yang melibatkan jutaan orang ini, harus segera diselesaikan. Jika negara bersalah, maka negara harus bertanggung jawab bahkan bila sampai membuat negara tersebut bangkrut.

Yang pasti, negara harus bertanggung jawab. Dan presiden harus tegas dalam bersikap. Bukankah semua pihak menginginginkan kebaikan dan kedamaian hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s