INI MASALAH SIKAP, BUNG! ITU SAJA

suka suka

Sedih. Tak ada lagi yang bisa diekspresikan terhadap bangsa ini. Sudah muak mendengar Indonesia impor produk ini impor produk itu. Impor barang jadi yang bahan mentahnya adalah bahan mentah Indonesia sendiri. Sudah muak mendengar perseteruan politik yang selalu berkobar. Sudah muak mendengar korupsi yang tak pernah hengkang. Di berbagai media yang ada hanya berita bencana, korupsi, selingkuh, terpuruknya negeri ini, dan negatif-negatif yang lain.

Apalagi harus tahu bahwa negara dengan garis pantai terpanjang didunia ini harus mengimpor garam hampir 80%, bahkan mencapai lebih dari 90% tahun 2010 silam.  Sedih tahu bahwa negara pengimpor gula terbesar kedua di dunia ini dulu adalah negara pengekspor gula terbesar kedua. Sedih melihat Singapura melabelkan jus tebu singapurnya. Bagaimana mungkin? Tidak ada perkebunan tebu di negara yang luasnya tidak lebih besar dari Jakarta itu.

Terkadang, saya lebih memilih tak acuh. Ini bukan urusan saya. Kenapa saya harus sibuk memikirkannya? Tapi sayangnya, saya terlahir di negeri terkutuk ini. Tapi saya harus yakin, bahwa Tuhan mengirim saya ke dunia dengan tujuan, melahirkan saya di negara ini pasti dengan tujuan. Ini adalah berkah. Kekurangan dalam hal pemanfaatan sumber daya manusia dan alamnya memang tidak bisa dinafikan. Setidaknya, ada orang-orang yang sadar dengan ketidakberesan negeri ini. Ketika kita melihat ketidakberesan, hati seharusnya resah dan ragalah yang akhirnya bergerak.

Kita tidak boleh melulu membicarakan kekurangan. Kesalahan adalah pelajaran. Tetap harus diperbaiki. Tapi kita harus bangga dengan banyak hal akan negeri ini. Indonesia ini kaya!

Menghabiskan energi hanya untuk mengutuk negeri ini tidaklah bijak. Kita punya hal-hal positif yang harus digembar-gemborkan.  Perguruan tinggi bagus seperti ITB seharusnya minimal ada 15 di Indonesia. Perbaikan di bidang akademik dan sikap harus terus diperbaiki. Indonesia butuh orang-orang dengan sikap yang positif. Orang-orang yang kooperatif terhadap peraturan. Sikap masyarakat Indonesia tidak menunjukkan sikap sebagai masayarakat yang katanya beragama.

Kita terlalu banyak protes. Mencaci pemerintah yang memang bobrok. Kebiasaan menjelek-jelekkan orang lain. Membuka aib teman atau tetangga. Jengkel dengan pemerintah, masalah banjir, masalah sampah, masalah infrastruktur. Padahal, kita sendiri mungkin masih suka membuang sampah sembarangan. Tidak, saya tidak ingin memberikan ceramah bebas. Saya tidak punya kapasitas untuk itu. Tapi tidak bisa dinafikan bahwa sikap masyarakat negara ini masih perlu diperbaiki. Termasuk mungkin sikap saya sendiri.

Ketika sadar bahwa kita mengimpor garam yang begitu besar dan tidak bisa mencegah hal tersebut. Harusnya kita malu. Sikap kita harusnya mencari solusi dan bukan mengutuk negeri yang memang terkutuk ini. Indonesia dikatakan tidak becus karena masyarakatnya yang tidak becus. Dan bukankah kita juga masyarakat Indonesia? Siapa yang kita salahkan sebenarnya? Termasuk diri kita sendirikah?

Ada dua buku yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca kalangan muda dan tua agar sikap masyarakat Indonesia semakin positif. Berpikir dan Berjiwa Besar karya David Schwartz dan Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karya Dale Carnegie. Dua buku tersebut memang buku luar negeri yang sudah banyak diterjemahkan diberbagai negara. Ini bukan iklan. Ini adalah sebuah rekomendasi dari seseorang yang akhirnya banyak belajar dan memperbaiki diri setelah membacanya. Tamak dalam membaca adalah salah satu tamak yang diperbolehkan selain tamak untuk berbuat baik.

Dua buku ini seharusnya menjadi buku bacaan wajib pegawai pemerintah dan anak sma seluruh Indonesia. Ini adalah investasi masa depan perbaikan bangsa ini. Sebelum atau beriring kita berkarya, sikap kita harus di poles. Memang lebih bagus jika semua penduduk membacanya, tetapi solusi perlu dilakukan tahap per tahap. PNS harus, agar PNS lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Banyak PNS yang kerja datang telat, pulang dengan cepat. Tidak semua PNS memang, tapi masih banyak PNS yang sikapnya harus diperbaiki. Mereka adalah instansi pemerintah. Mereka harusnya memberikan contoh.

Masa SMA adalah masa pencarian identitas. Labil. Mungkin itu bahasa anak muda sekarang yang tepat untuk mengondisikan anak sma. Mereka perlu bimbingan dan rasa optimisme untuk menjadi agen perubahan sebelum masuk ke dunia perkuliahan atau dunia kerja. Hedonisme perlu dikurangi. Atau yang penting, kita bisa meletakkan pada porsinya masing-masing. Kapan harus hedon, kapan harus berkarya dan bekerja. Kita harus profesional dan sungguh-sungguh terhadap apa yang kita lakukan.

Kita butuh kerja keras sobat dan sikap berani. Tidak ada pekerjaan kecil, setiap pekerjaan pastilah bernilai. Jika sikap pemuda sudah baik maka masalah contek-menyontek tidak mustahil akan berkurang dan bahkan musnah. Karena mereka percaya dengan diri sendiri. Menyontek hanyalah masalah ketakutan akan masa depan dan buruknya citra pribadi dihadapan banyak orang. Padahal, jika sikap kita baik dan kita percaya pada diri sendiri maka citra yang baik itu adalah suatu keniscayaan. Yakinlah sobat.

Pun dengan masalah korupsi yang tak kunjung henti. Para koruptor, saya amat yakin dahulunya adalah para pecontek. Maka jumlah pecontek harus dikurangi agar koruptor berkurang. Koruptor pun sama, ini hanya masalah ketakutan mereka akan imaje. Segala kebobrokan dan kemajuan adalah buah dari sikap. Sikap negatif atau pun sikap positif. Harus bersikap positif? Kenapa tidak!

 

February, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s