[CINTA MEMBACA] Orang itu begini, begini..Mimpi dan Berubah

suka suka

Ya memang, kepribadian seseorang bisa diramal dengan melihat buku apa yang ia suka baca. Kisah cintakah, perjuangankah, komedikah, misterikah, komikkah, politikkah, sastrakah, budayakah, atau apapunkah-lah. Dengan kata lain, mutlak, bahwa kita bisa menentukan sendiri ingin seperti apa sosok kita nanti dengan memilah genre buku. Sesimpel itu? Ya, buat saja menjadi simpel.

Ahhh, orang itu tidak mengerti apa-apa.

Sepertinya ia memang tidak tahu banyak. Dia tidak banyak membaca berarti. Atau, bisa jadi dia hanya pura-pura tidak tahu.

Dia seperti politikus yaa, negarawan muda. Ngomonginnya cuma tentang politik dan mengeluhkan pemerintah. Tapi itu memperlihatkan betapa ia mencintai tanah airnya nampaknya. Dia peduli.

Mungkin karena memang yang ia baca artikel-artikel koran dan buku-buku kenegaraan.

Si Anu dewasa ya dibanding yang lain.

Bisa jadi memang ia dibentuk dari lingkungannya yang memaksa dia untuk menjadi sosok yang dewasa dan bisa menghadapi keadaan yang sulit dan berbagai masalah pelik. Tapi tidak mustahil juga karena ia gemar membaca buku-buku personal power. Atau gabungan dari keduanya.

Wahh, kamu pintar. Aku senang kamu bisa menjelaskan tentang galaksi.

Hobbinya astronomi mungkin? Ia tak sungkan mengumpulkan informasi mengenai alam semesta. Bagaimana kisah dunia ini terbentuk. Rasi bintang. Meteor. Apa itu Andromeda. Wajar, jika ia bisa menjelaskannya.

Dia hobbi membaca komik serial cantik.

Ahh, kali ini, itu saya smp. Sifat agresif saya ketika smp nampaknya dipengaruhi karena saya gemar membaca komik serial cantik yang kebanyakan berkisah tentang seorang anak perempuan smp atau sma yang menyukai kakak kelasnya, temannya atau bahkan kakaknya sendiri. Mereka memberikan hadiah-hadiah secara sembunyi-sembunyi.

Buka aib ini namanya, San!

Yahh, tidak apa-apalah. Untungnya ini masa lalu. Bisa menginspirasi mungkin? (apanya!)

Saat itu, saya diam-diam mengamati seseorang yang saya sukai. Ketika istirahat kelas. Berpura-pura keluar di jam pelajaran untuk ke kamar mandi dan melewati kelasnya hanya untuk melihat dia yang sedang tidak mengamati pelajaran. Ikut salah satu klub sekolah karena ada dia juga di klub tersebut jadi bisa memperhatikan dia lebih dekat dan lebih intens. Ahhh,,anak muda.

Itulah ketika saya smp. Buku yang saya suka baca hanya komik-komik tak berbobot. Karena bagi saya waktu itu, menghabiskan waktu dengan membaca buku yang isinya tulisan semua memang membosankan. Apalagi membaca buku-buku pelajaran, literatur-literatur atau yang berbau-bau ilmiah. Waktu satu jam bisa berjalan berabad-abad (ini hiperbolis). Tapi memang membosankan sekali.

Sampai akhirnya saya dipaksa.

Layar Terkembang. Itulah novel pertama yang saya baca di SMA dan dalam hidup. Itu adalah buah dari keterpaksaan. Masa itu, saya jadi suka baca novel karena dipaksa pelajaran bahasa indonesia untuk membaca novel sastra. Saya suka membaca novel. Ternyata saya suka. Saya menikmati alur dan cerita yang disajikan.

Jadi begini rasanya membaca novel yaa.

Hmm…dampaknya: saya jadi ketagihan membaca novel. Saya obrak-abrik koleksi novel sastra perpus sekolah: Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Jalan Tak Ada Ujung, Atheis dan teman-temannya. Dari novel sastra, saya juga mulai menyambangi novel—novel yang ada di toko buku. Novel-novel remaja.

Saya sangat bersyukur ada kenaikan level: dari baca komik ke baca novel. Sesuatu banget kan?

Komik tidak saya tinggalkan begitu saja. Genre komik kini berganti dari serial cantik yang ampas ke kisah detektif. Komik detektif, novel detektif, saya sambangi keduanya. Membaca genre detektif membuat saya terlintas ingin menjadi detektif juga. Keinginan semu sih. Hooho.

Masih di zaman yang sama, SMA, saya akhirnya mulai merambah ke buku-buku non fiksi. Buku keagamaan, kenegaraan, kisah hidup seseorang dengan tanpa meninggalkan komik dan novel yang tetap saya gemari.

Selain itu, sosok saya ketika sma adalah sosok yang introver. Tertutup. Saya lebih suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kepada orang lain. Curhat adalah sesuatu yang tabu bagi saya waktu itu.

Tapi memasuki tahun pertama kuliah, dunia saya berubah. Lingkungan bisnis yang saya jalani sambil kuliah memaksa saya menggeluti buku-buku mengenai optimisme, sifat-sifat manusia, bagaimana mendekati orang lain dan memberikan respek bagi siapapun dan percaya pada diri sendiri.

Seperti apa lagi saya nantinya ya?

Karena Saya yang sekarang dibentuk oleh lingkungan yang memaksa saya membaca ini dan itu. Betapa lingkungan dan buku adalah dua hal yang saling terkait ya?

Saya, anda, kita semua bisa dan berhak menentukan seperti apa kita nanti. Pastikan bahwa kita bisa memfilter diri kita sendiri dengan maraknya informasi yang berdatangan bertubi-tubi. Yang baik, buruk, kita yang berhak memilahnya. Karena pilihan itu yang akan membentuk kita menjadi sosok yang berbeda, yang mungkin lebih kuat, lebih tegas, lebih bijak, lebih, lebih, lebih,lebih dan lebih apapun yang kita inginkan.

Bahkan orang sebrengsek Hitler pun saya yakin dia gemar membaca. Dia mampu membuat orang disekitarnya segan kepadanya (takut). Seorang pembalap sekalipun, selain harus berlatih, ia juga harus membaca. Mengenai bidang yang ia tekuni. Seorang yang bahkan tidak lulus SD, mampu menjadi berhasil untuk dirinya dan untuk orang lain, bukan karena apa-apa, saya yakin ia belajar dari pengalaman orang lain secara langsung dan dari media-media tertulis, Masril Koto misalnya. Atau, kalau kita ingin terbang ke Inggris. Ada Herbert Morrison. Seorang lulusan SD yang pernah menjadi pimpinan Partai Buruh dan sekretaris Kementrian Luar Negeri Inggris. Dia membaca! Mereka membaca!

Buku (membaca) memang bisa merubah dan menginspirasi seseorang. Menjadi lebih baik atau lebih buruk. Kita harus bisa memfilter untuk kebaikan diri kita juga. Karena sebuah kemutlakan bahwa membaca adalah jendela dunia. Tanpa harus pergi ke Pekalongan, kita bisa tahu kota Pekalongan itu seperti apa, bagaimana kiprah dan sejarah batik yang melegenda di kota itu. Jawaban itu bisa dicari dengan membaca. Kota-kota manapun, kawan! Tinggal pilih.

Negara bahkan bisa berubah karena pemerintah dan rakyatnya yang gemar membaca. Saya sangat setuju bahwa untuk memajukan negara kita, Indonesia, cinta dan budaya membaca harus digalakkan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dimulai dari diri sendiri, kan?

Tapi bagaimana jika diri sendiri pun tak bisa, San?

Hmmm…Mati sajalah. Heehe. Telalu ekstrim. Pastikan kita punya mimpi yang ingin kita raih, kawan. Ketika saya bertekad ingin mulai merancang membangun industri pangan 2016 nanti. Saya harus meningkatkan kapasitas dan kemampuan. Pastinya saya harus banyak membaca selain harus menjalin networking. Diri saya harus di upgrade agar cita dan mimpi itu dapat tercapai.

Jika mimpi anda ingin memiliki banyak uang. Membaca bisa menjadi langkah awal bagi anda kan? Mencari tahu cara bagaimana memiliki banyak uang. Setelah membaca, kita kerja, kemudian membaca lagi, kerja lagi, dan begitu seterusnya. Keduanya saling melengkapi. Mungkin istilahnya: read and action!

Apapun mimpi anda, yakinlah, bahwa membaca dan mengambil langkah disertai lingkungan yang kondusif atau kita yang harus membuatnya kondusif, anda bisa menjadi sosok yang anda inginkan.

Kok saya jadi sotoy gini yaa..heehe. Saya senang menginspirasi orang lainlah. Karena dengan menginspirasi orang lain, diri saya juga ikut terinspirasi.

Tapi bagaimana jika saya sama sekali tidak suka membaca?

Yahh, mulai saja dengan membaca yang ringan-ringan. Novel remaja, cinta, persahabatan atau cerita fiksi apapun. Karena cerita fiksi memiliki alur yang membuat pembaca penasaran dan berkemauan untuk menamatkan cerita tersebut. Saya sendiri juga berawal dari hanya gemar membaca komik seperti yang sudah saya ceritakan kan. Atau bagi anda yang suka main untung-rugi, saya jamin, anda tidak akan rugi dengan hobi membaca. Banyak keuntungan yang bisa anda dapat: uang, pengalaman, ilmu, apapun. Bahkan, jika anda tidak punya dana untuk membeli buku, anda bisa meminjam kepada teman, kerabat atau siapapun yang anda kenal, taman baca umum, perpustakaan kota. Banyak cara.

Yang penting, kita mau bermimpi dan berubah. Bukan untuk siapa-siapa kok. Minimal untuk diri kita sendiri, kan?

Bandung, 1 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s