Negeri diluar imaginasi

suka suka

Garis batas. Selimut Debu. 99 Cahaya di Langit Eropa.

Ketiganya adalah buku bergenre perjalanan. Dan sekarang, buku yang sedang saya ulik juga tidak berubah. Meraba Indonesia. Genre yang sama.

Ini semua gara-gara kick Andy. Saya jadi tahu salah satu jurnalis gila yang mau menyambangi negara-negara asia tengah yang tidak mudah disambangi. Ini juga gara-gara teman saya, sebut saja namanya nisa, yang membeli sebuah majalah traveling, sehingga saya tahu bahwa jurnalis gila itu menuliskan kisah perjalanannya dalam sebuah buku berjudul GARIS BATAS. Saya jadi baca resensinya yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk membeli buku tersebut.

Buku ini bukan tentang perjalanan di PARIS, TOKYO, BANGKOK, LONDON, NEW YORK, SINGAPORE, SEOUL. Negara-negara yang menjanjikan pemandangan, wisata, hiburan, artis idola dan banyak hal menarik dan eksotis yang enak untuk dikunjungi. Tapi ini tentang kehidupan di ASTANA, BISHKEK, DUSHANBE, TASHKENT dan ASHGABAT. Sebuha kehidupan di tempat yang pernah menjadi jalur perdagangan dunia, jalur sutra.

Gara-gara buku ni saya juga jadi sangat ingin bisa berbicara dalam banyak bahasa. Sepertinya sangat menyenangkan.

Setelah membaca garis batas, saya jadi membeli buku agustinus yang lain, SELIMUT DEBU. Kisah perjalanannya di negara yang saya tahu selama ini penuh dengan konflik dan terdengar penuh kontroversial dan menyeramkan, Afganistan. Tempat dimana taliban berdiri. Tempat peperangan antara syiah dan sunni.

Tapi juga menunjukkan betapa orang afghan dan asia tengah pada umumnya yang sangat menjunjung tamu dan sangat mau berbagi.

Lalu, saya lanjut ke buku yang ditulis salsabila rais. 99 cahaya dilangit eropa. Sebuah kunjungan ke austria, perancis, spanyol dan turki. Mengulik Islam yang pernah berjaya di bumi Eropa.  Buku perjalanan yang dinovelkan ini begitu mengalir dan bisa dihabiskna dalam waktu singkat. Saya membacanya hanya 2 hari. Bahkan teman saya hanya 1 hari.

Buku perjalanan terhair di akhir tahun 2011 ini belum selesai saya baca. Kisah dua orang jurnalis yang mengelilingi indonesia dengan sepeda motor.

Dari segi bahasa, saya lebih suka gaya bahasa Agustinus. Saya jug abingung bagaimana harus mengatakannya. Sayang sekali, di buku Meraba Indonesianya Ahmad Yunus ini tidak disertai peta perjalannnya. Hani bilang, temen saya yang merekomendasikan saya membaca buku Meraba Indonesia itu, membuatnya menjadi lebih mencintai Indonesia. Yahhh, meskipun saya sudah sejatuh cinta itu dengan tanah air saya ini, tak ada salahnya juga membaca kisah perjalananya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s