CERITA BOM

suka suka

Jaman SD, Bom sok sok mencari tantangan. Saat itu, Bom dengan sepeda pinjaman bersama teman-teman masa kecil bersepeda di sebuah belokan yang curam. Untuk orang dewasa juga curam kok, mereka selalu berhati-hati saat melewati jalan itu.

Tapi saat itu, Bom tidak berhasil mengumpulkan rasa percaya diri yang besar. Ada rasa ragu dan takut. Teman-temannya pun sebenarnya khawatir.

Yakin, Bom? Tanya mereka begitu.

Jalan itu sempit. Untuk dua buah motor saja, mereka harus pelan dan ada yang harus mengalah berhenti. Tapi saat itu, keadaan memang lagi sepi-sepinya, tidak banyak motor dan orang-orang yang berlalu lalang. Jadi mereka bisa leluasa bermain. Dua orang teman pria Bom di depan sudah berhasil menaklukan belokan curam itu. Bom masih diam diatas. Bom menekan-nekan rem tak santai dan kaki menginjak-injak ke aspal mengumpulkan energi. Meskipun energi itu tidak terkumpul juga. Teman-teman yang lain memperhatikannya. Tari dibelakang Bom cuma berucap,

Ayo, Bom!

Bom menarik nafas panjang dan meluncur. Benar, Bom masih punya satu tekad, NEKAT. Ziuuuuuu…..belok kiri, ziuuuu..belok kanan…..jedar!

Hasilnya, bibir Bom malah berdarah, tulang kaki dan badan sebelah kiri Bom remuk. Bom tersungkur di teras rumah orang dibawah turunan. Bom selalu berfikir, itu adalah tentang percaya diri dan bagaimana Bom percaya sepeda yang Bom pakai saat itu.

Oleh karena itu, Bom memberinya nama Daya. Nama panjangnya Lodaya. Bom sadur dari nama sebuah Kereta Api trayek Bandung-Jogja. Yang artinya macan. Tidak ada alasan khusus nampaknya, itu karena Bom hobbi naik kereta saja. Begitulah. Dia adalah sepeda hitam yang menemani Bom sejak November 2009 silam. Bertahun-tahun kemudian setelah Bom tersungkur itu. Tapi mereka berdua tidak pernah selalu bersama sesetiap hari itu juga. Karena medan di kota tempat mereka bersama sekarang ini, Bandung, menanjak dan menurun tiada henti. Bom memang masih payah tentang itu soalnya.

Masih harus mengumpulkan percaya diri, Bom? Mungkin.

Tidak ada yang spesial dan berbeda selama Bom bersepeda selama ini. Bom tak pernah bertemu pria tampan atau mendapat uang segepok selama bersepeda.

Bom paling cuma keliling-keliling kota Bandung yang bermedan naik-turun itu. Dan kalau ke kampus, Bom lebih suka berangkat naik sepeda karena medannya turunan, tapi kalau pulang, Bom lebih banyak menyerah. Jadi sepeda Bom lebih banyak bermalam di kampus dari pada di kosannya karena jarang Bom bawa pulang.

Perjalanan bersepeda Bom terjauh selama ini cuma sekitar 10 km. Waktu itu dari kampus ke rumah seorang teman di Ujung Berung. Pada perjalanan pulang, Bom malah menitipkan sepeda Bom disana. Dan selang beberapa bulan kemudian, barulah sepedanya kembali, itu pun karena dibawakan ayah temannya itu dengan mobil.

Suatu ketika, ada juga seorang teman yang mengajaknya bersepeda, jalur kali ini DAGO-LEDENG. Ini trayek naik gunung namanya. Yaah, Ledeng masih di kakinya kaki gunung Tangkuban Perahu sih tapi tanjakan sudah tak terperi. Mereka pun berhenti di kampus UPI Bandung dan membuka lapak. Tidur menatap langit di atas rerumputan dan menarik nafas panjang.

Dalam perjalanan ke UPI itu Bom dan temannya malah sering menemui pesepeda yang sudah tampak sepuh dan generasi terdahulu. Bahkan perjalanan mereka masih lanjut keatas. Dahsyat sekali.

Ini baru pepatah benar, bersusah dahulu baru bersenang kemudian. Karena perjalanan pulang bagi mereka adalah badai rahmat Tuhan. Mostly turunan. Itu jalur ke arah utara kota Bandung.

Jika bersepeda ke arah selatan, barulah bersenang senang dahulu bersusah susah kemudian.

Suka suka kamu terpincut untuk memilih yang mana.

 

Bandung, November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s