ARSITEK HARGA MATI

suka suka

Acara Kick Andi yang menghadirkan Ridwan Kamil barusan menjadi bahan bakar penyemangatku untuk terus menjadi pribadi yang produktif. Belajar San belajar, kerja kerja. Kataku dalam hati. Aku menatap langit-langit rumah sejenak dan bergegas ke kamar. Bukan untuknya, aku hanya ingin menjadi teman dan sahabat karena satu mimpi kami.

——–

Pasar Mampang bagian luar tiap malam memang selalu ramai dipenuhi pedagang kaki lima. Beberapa pembeli terlihat semangat menawar harga.  Dua bocah perempuan yang kutaksir masih SD itu pun tak mau kalah menawar pada penjual jam tangan.

“Pak, 10 ribu lah…nanti kalau kami sudah jadi Arsitek bapak kami kasih bonus deh” kata bocah berambut ikal sambil membawa gitar kecilnya.

“Iya pak, iya. Pacar kami akan pergi jauh ke luar negeri. Ini kenang-kenangan yang ingin kami beri” tambah si bocah berambut lurus yang membawa kecrekan.

Aku yang sedang berjalan santai melihat-lihat pedagang yang berjualan dipinggir jalan ini tertawa geli di dalam hati di dekat mereka. Berjalan menjauh, gelak tawa penjual jam masih jelas terdengar bahkan mungkin juga terdengar oleh pedagang dan orang-orang yang lewat disekitarnya.

“HAHAHAA…bonus mbahmu…sekolah dulu yang bener sana kalau mau jadi arsitek. Nangis nanti mak bapakmu tau kalian beli jam buat mainan pacaran doang” kata penjual jam tak kalah semangat.

Mereka hanya menjawab dengan diam.

Aku menghentikan langkahku tertarik mendengar lanjutan percakapan mereka. Kupura-purai tertarik pada kaos yang dijejerkan disamping penjual jam itu. Sambil memegang-megang bergantian beberapa kaos, zona penglihatanku mampu menangkap bocah berambut lurus yang menunduk lesu menatapi jam yang ia pegang. Sesekali ia tatapi penjual jam dan temannya yang berambut ikal.

“Hhhh….emang hasil ngamen kalian hari ini cuma 10 ribu?” tanya penjual jam karena mungkin mulai iba atau sedih juga karena tak ada pembeli yang meramaikan dagangannya. Kenapa hanya dua bocah ini. Mungkin begitu gerutunya dalam hati. Atau mungkin itu juga bentuk syukurnya karena masih ada calon pembeli dagangannya. Hanya dia manusia yang tahu.

“iya pak,,,,” kata mereka berdua lesu.

 

Aku meninggalkan penjual kaos dan ikut melihat-lihat jam. “Silahkan mbak, dipilih-dipilih” kata penjual itu kepadaku penuh semangat. Meskipun penjual jam tahu aku belum tentu beli, tapi semangatnya menerima calon pembeli….aku sangat senang. Ahhh, memang seperti itulah mental penjual seharusnya. Aku hanya tersenyum mengangguk-angguk.

Aku bisa melihat jam bertali coklat tua dari bahan kain tebal yang tidak terlihat begitu spesial. Bahkan menurutku, jam berwarna hijau army yang aku pegang ini terlihat lebih gagah. Aku meletakkan jam hijau army itu dan mengambil paksa jam coklat dari genggaman rambut lurus dengan mudah. Tanpa memedulikan ekpresi mereka dan penjual jam aku  memikirkan sesuatu sambil memerhatikan jam itu dengan seksama.

“Kenapa kalian ingin jadi Arsitek?” tanyaku pada dua bocah itu sambil masih memegang jam yang ingin mereka beli.

Dua bocah itu saling menatap dan tidak langsung menjawab. Dengan ekspresi sebal, rambut ikal malah bertanya, “Terus, kenapa kakak menjambret jam kami?”

———-

“San, liat itu” kata Randi menunjuk papan reklame yang terpasang memenuhi pagar jembatan penyebrangan yang baru kami lewati. Aku baru sadar ada papan itu.

“Kenapa? Cuma iklan rokok bukannya” kataku tanpa takjub

“Hmm..yahhh, modelnya ganteng juga sihh” tambahku

“Haaahaha…makanya sono cari pacar, yang diliat gantengya doang sihhh” kata Randi.

“Apa hubungannya? Males lah gue terikat sama orang lain, nggak bebas, Ran” kataku

“Ngeliat lo yang putus macar lagi putus macar lagi aja, udah bikin gue males pacaran.  Nggak usah ngurusin gue deh. Lo tu mendingan yang bener kalo macarin anak orang. Kalo nggak serius nggak usah dipacarin lah” kataku sambil menghabiskan es krim ditangan.

Randi yang dari tadi berdiri ikutan duduk di halte tempat kami biasa menanti bus untuk pulang sekolah, “Yaahh san, kalo serius mah, nikah langsung deh gue”

“Hah? Jadi emang lo nggak pernah serius ama mantan-mantan lo itu selama ini?”

Randi mengangguk.

“Ama yang sekarang?”

Randi cuma nyengir.

“Jangan bilang putus lagi?” tanyaku

“pingpong, 100!” katanya

“Huhhhh….Capek gue ama orang ini kalo ngebahas beginian” kataku

Randi masih tetap cuma nyengir.

“Padahal menurut gue Rina itu cewek yang okee dan…”

 “Udah lah, kenapa jadi ngebahas ini sih. Nih ya San, gue kasi tau, cowok yang lo bilang ganteng di papan reklame itu Ridwan Kamil”

“Buset dehh…gue juga bisa baca namanya di Papan itu, Ran” kataku menyanggahnya

“Bentar, gue belom selesei. Dia itu salah satu arsitek terbaik di Indonesia. Karyanya nggak Cuma di dalam negeri, ahhh..ngefans gue lah. Dia bahkan menyabet gelar arcitect of the year gitu di majalah elle decor magazine”

“waww” kataku antusias.

“Setelah gue selidiki, dia itu tenyata dosen ITB”

Aku tetap menyimaknya sambil membuang batang es krim di tempat sampah halte itu.

“Jadi? Apa kita masuk arsitek Itb aja?“ tanyaku

“Nahh, itu dia. Gue sih masih pingin di Arsitek UI, nggak tega ninggalin nyokap di rumah sendirian. Tapi itu masih belum pasti lahh. Pokoknya orang itu bikin gue mantep jadi arsitek yang handal”

Aku mengangguk-angguk, “Hmmm….oke, kalo gitu deal” kataku

“Deal apanya?” Randi bingung

Aku berdiri dan menatap Randi penuh semangat, “Deal kalo kita harus jadi Arsitek yang hebat”

Randi juga berdiri, “Oke…yeaaa”

“Yeaaaaa” aku tak kalah semangat. Kami mengangkat kedua tangan kami di halte yang agak ramai itu.

“Ehh, itu bisnya dateng” kataku

———–

Sambil kembali memerhatikan jam yang aku genggam dan menatap penjual jam, “Menjambret jam kalian?”

“Calon jam kami maksudnya” kata bocah berambut ikal sambil menunduk.

Aku hanya tersenyum dan mengembalikan jam itu ke mereka, ke rambut lurus. Setelah jam ada di mereka, rambut ikal kembali bilang ke penjual jam, “Yaudah pak, boleh nggak jam yang ini disimpen dulu, nggak lebih seminggu deh pak, soalnya minggu depan pacar kami itu udah pergi. Yah pak yaa” kata si rambut ikal mengiba memohon. Mereka berdua memasang tampang memelas dengan tangan memohon di depan dada.

Huhh. Desahku dalam hati. Aku kembali ikut campur.

“Emang jam itu harganya berapa pak?” tanyaku kepada penjual jam sambil menunjuk jam yang dipegang si rambut ikal.

Kedua bocah itu terlihat kaget lagi.

“Itu 25 ribu, mbak”

“Hahh,,,nggak boleh mbak, ini udah kami pesan. Nggak boleh” kata rambut ikal. Si rambut lurus mengagguk-angguk.

“Kalian ini kebanyakan nonton sinetron yaa, pikirin yang baik-baik ajalah” kataku

“Terus, kenapa mbak nanya harga jam ini?” tanya rambut ikal

“Ahhh, jangan-jangan mbak mau mbayarin buat kita yaaa?” tanya rambut lurus.

Sebelum aku tersenyum lebar mengiyakan, mereka berdua kompak berkata “Itu juga nggak boleh, mbak”

Aku yang kaget sekarang, “Kenapa?”

“Kami maunya ini beneran hasil payah kita ya, ras” kata rambut ikal.

Si rambut lurus mengangguk-angguk.

“Hmmm…begitu” kataku

Aku mengambil paksa jam coklat di genggaman rambut lurus lagi.

“Mbak ini hobbi bikin kaget kami yaa” kata rambut ikal.

“Okeee…”kataku puas sambil mengembalikan jam itu ke rambut lurus.

“Gimana kalo jam ini saya beli sekarang juga. Jadi kalian gak perlu khawatir jamnya dibeli orang lain. Nanti kalian yang membelinya dari saya” kataku

Kedua bocah itu saling menatap. Si rambut ikal yang pandai bersilat lidah itu kembali berbicara “Terus kami nemuin kakak gimana?” tanyanya yang tidak tetap menyapaku dari kak, mbak dan kak lagi.

“Kalian tinggal dimana?” tanyaku

“Kami bisa tinggal dimana saja kok kak. Tapi kami sering tinggal di belakang pom bensin itu” kata rambut lurus menunjuk pom bensin di ujung perempatan lampu merah dekat kami berdiri.

“Rumah kakak jauh?” tanya si rambut lurus

“Hmm…jalan kaki 15 menit dari sini”

“Oke,,,sekarang kami kesana saja. Nanti kalau uang kami sudah cukup, kami akan menjemput jam itu dirumah kakak”

“Kalian tidak apa-apa pulang larut?” tanyaku

“Tenang saja kak, kami ini kan pengamen. Meskipun masih kecil kami tetap saja pengamen. Biar kami yang menjemput jam itu di rumah kakak” kata rambut ikal

“Begitu? Oke, ayo berangkat” kataku setelah membayar jam itu ke penjual jam.

Kami bertiga pun berjalan menuju rumahku setelah membeli jam itu. Kami melewati barisan ojek dan mengikuti jalan yang penuh lampu jalan yang tak membuatnya terang, tapi boleh juga jika kukatakan itu terlihat sangat romantis. Tidak berkelap-kelip. Tapi entah kenapa, angin malam ini terasa begitu lembut membuatku hanyut dalam perspektif cakrawala pohon yang anggun. Begitu melankolis dan menyentuh sanubari.

Kedua bocah itu berjalan riang didepanku. Ketika melewati pertigaan mereka selalu bertanya, “Lurus kak? Atau belok”

“Emangnya pacar kalian itu sama? Kok jam yang dibeli cuma satu? Terus kenapa harus yang berwarna coklat?” tanyaku diperjalanan kami.

Rambut lurus yang akhirnya aku tahu bernama Laras hanya menjawab dengan anggukan.  Dan Rena si rambut ikal menambah dengan senyuman lebar. Mereka tidak menjawab pertanyaanku.

“Terus, kalian tadi emang bener pingin jadi Arsitek?”

Mereka mengangguk kompak.

“Kenapa?”

Sebelum mereka menjawab, deheman seseorang dibelakang membuatku menoleh. Si pemilik dehem pun mempercepat langkahnya dan berjalan disampingku. Dengan jeda yang dapat diabaikan, aku langsung menyapanya,

“Ran!” penuh sumringah

Sepersekian detik kemudian, gelombang suaranya kuterima,

“Darimana, San?” tanyanya.

Gelombang ini meluluhlantahkan telingaku. Hatiku pun dibuatnya tak mampu tuk berirama dengan tenang. Skala richternya mungkin melebihi 1000. Ahhh, dia. Itulah dia. Teman sekaligus senior di sekolah yang dari SMP kami dipertemukan dalam satu organisasi. Tapi aku harus tetap terlihat biasa tanpa basa-basi. Kharismaku tak boleh dikalahkan oleh badai suaranya. Karena kami ini teman baik. Aku tidak ingin merusak pertemanan dan persahabatan yang telah lama kami jalin.

Tapi sebelum aku menjawab, dua bocah itu langsung menyapanya

“Kak Randi?”

Mereka langsung memeluk kaki Randi. Laras di kiri, Rena dikanan.

“Kak Randi, kak Randi lagi ngapain?” tanya mereka berdua

Aku heran, “Kalian kenal?”

Tapi mereka berdua tak menggubrisku. Dan Randi hanya tersenyum. Itu pun tersenyum pada dua bocah itu.

“Kalian lagi ngapain disini?” tanya Randi dengan mengelus-elus kepala mereka. Pemilik-pemilik kepala itu hanya menunjukkan muka girang dan bahagia seperti mendapat es krim gratis dari surga. Kami tetap berjalan. Kaki Randi kini sudah bebas dari cengkraman tangan-tangan kecil.

“Kak Randi beneran bakal pergi jauh yaa, keluar negeri yaaa?” tanya rambut ikal

“Ke negeri penjajah yaa?” tambah rambut lurus.

“Bukan negeri penjajah, negeri mantan penjajah” katanya

Sepertinya aku mulai mengerti.

“Ran, maksudnyaa? Jadi?”                                                        

Sambil menggandeng kedua bocah itu, Randi mencoba menjelaskan segalanya.

“Gue pingin ngasi tau lo lusa sebenernya pas lo ulang tahun, tapi lo beruntung, tau duluan” katanya nyengir.

“Beruntung apanya? Masa dua bocah ini tau duluan? Hayoo…jangan macarin dua bocah sekaligus lah Ran. Pilih salah satu” ledekku.

“Nanti kita juga bakal gede ya, Ren” sanggah Laras padaku.

Rena mengangguk penuh.

Randi cuma nyengir.

“Yaaa, meski gue gak keluar negeri, kan gue bakal lulus jugaa. Udah belajar yang bener, nanti tahun depan lo bisa nyusul gue ke Jepang atau tetep kuliah di Indo”

Kami mulai berjalan ke arah rumah ku. Tapi sebelum sampai, kami melewati rumah Randi. Di depan rumahnya, aku bisa melihat ceweknya yang terbaru, Katrin yang sedang duduk di teras. Aku selalu ingin terlihat tegar. Karena aku adalah teman terbaiknya.

 “Pokoknya jangan lupa perjanjian kita yaa…” kata Randi sebelum masuk rumahnya

“Arsitek terbaik? “tanyaku

“Arsitek terbaik!”

“Kalo nanti lo masuk arsitek itb, mintain tanda tangan Ridwan Kamil ya san” katanya yang entah serius atau tidak.

“Siap!!” Kataku sambil hormat.

 

 

-Tamat-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s