INDONESIA, i (maybe) really love you

suka suka

Supir-supir angkot tengah bercengkerama beristirahat dalam ramainya jalan astana anyar. Beberapa mengibaskan kemeja/kaosnya karena panasnya terik mentari siang ini. Toh nyatanya Bandung takluk juga dengan virus global warmingnya dunia.

Pemandangan lain, pedagang dan orang-orang di toko besi sibuk bekerja. Mengelas, bermain-main dengan gas-gas yang menghasilkan api dan bau-bau, yang hebatnya bisa menyambung jalinan besi-besi satu demi satu.

Berbeda lagi dengan para pedagang-pedagang CD bajakan yang berlomba memutarkan lagu-lagu hits dalam versi penyanyi amatir. Irama dangdut menjadi tujuan ritme perubahan utama.

Atau lain lagi dengan pedagang-pedagang asongan, penjaja ban-ban bekas, spare part bekas untuk motor dan wajah-wajah semangat bekerja pedagang lainya.

Ahh, berkali-kali melewati jalan ini, aku tak pernah bosan. Ia selalu berhasil menguatkan hati ini untuk terus maju dan bekerja. Berkarya dan bercita.

Dan berkali-kali aku melewati pasar besi bekas ciroyom, semangat muncul lagi kuat lagi meski ia membangkitkan kenangan akan kerjaku lalu.

Toh berkali-kali ku tumpangi kereta ekonomi, aku tak pernah letih. Ia kembali nyalakan api gairah mudaku untuk terus mengabdi. Untuk kembali sadar akan hakikat sebenarnya terhadap apa yang aku perjuangkan. Tentang untuk apa masa depan. Tentang mengapa aku pilih apa yang aku lakukan.

Kecuali satu ini, kemacetan yang terus melanda. Ahh, kapan sebenarnya. Sampai kapankah kontrak impor kendaraan-kendaraan ini akan berakhir/dibatasi? Perluasan jalan yang tak memberi solusi. Kesadaran masyarakat akan cinta produk dalam negeri yang masih rendah. Toh memang kendaraan kita belum punya. Semua hanya manufaktur saja.

Mana yang sebenarnya lebih penting, pegawai di pabrik-pabrik manufaktur itu atau energy yang terbuang percuma karena kemacetan ini.  Ahh, aku sendiri baru saja tes masuk perusahan manufaktur.

Kecuali yang lain.

Beginikah dampak kunjungan pejabat Negara? Kemacetan yang sudah parah semakin menjadi-jadi. Pun supir angkot ini memotong jalan, tak ada solusi kawan. Semua semrawut dalam kemacetan. Emosi dan amarah mulai muncul.

Ahh toh ratusan tahun pun berlalu, aku akan masih tetap mencintai negeriku ini. mungkin.

 

~(didalam angkot cisitu-tegallega)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s