MALAM 2 RAMADHAN 1433 H

suka suka

Tarawih malam kedua gue kali ini di Masjid Ar Rohmah deket rumah bonyok di Jakarta. Padahal tadi pagi masih mager untuk tetep stay di Bandung. Tapi apalah daya, bajet untuk hidup di Bandung udah limit rupiah mendekati nol. Yahh, sekalian bersua keluarga di hari ramadhan pertama. Lagi pula pingin banget makan kolak buatan nyokap . Gapapalah, meski gue harus mengorbankan nggak solat tarawih di Salman. Ini ni kemanjaan gue tingkat tinggi di bulan ramadhan.

Karena menurut gue, so far, Salman is the best mosque. Nikmat banget solat di mesjid itu. Ketenangan dan kedamaian akan belaian kasih Tuhan begitu menyertai. Air mata rasanya mudah mengalir mendengarkan imam menyenandungkan ayat-ayat ilahi . Hati begitu mudah tergerak untuk merasa rendah diri di hadapanNya.  Dan kekhusyukan begitu mudah di dapat. Apa ini juga cobaan yaa? Harusnya gue bisa khusyuk dimana saja kan? Harusnya.

Dan benar saja, solat isya gue malam ini membutuhkan perjuangan tingkat dewa. Dominasi suara obrolan anak-anak begitu bergemuruh memenuhi masjid Ar Rohmah hingga kelangit-langitnya dan membuat gue harus begitu kerasnya mencoba focus untuk mendengarkan suara sang imam saja. Sigh, semoga ini juga menjadi pahala ramadhan gue. (sombong)

Sebelum memulai tarawih, Penceramah mengawali ceramah (lagi) dengan q.s albaqarah 183:

Tujuan puasa adalah menjadikan manusia-manusia yang bertakwa. Taqwa adalah titel dari Allah bahwa orang tersebut adalah orang yang paling baik. Bahkan dalam quran yang gue sering denger juga sih dan penceramah nggak menyebutkan surat dan ayat apa : “sebaik-baik kalian adalah orang yang bertakwa”.

Takwa ini adalah syarat mutlak masuk surga, bro, kata pak penceramah. Maka pada bulan ini kita harus mau menempa diri untuk menjadi orang-orang yang bertakwa. This is our chance (I think) to be more takwa person.

Ali s.a juga berkata bahwa :

  1. Takwalah kepada Allah, kepada keagungan, kebesaran dan kemahatauanNya. Kalau kita menyadari hal ini maka kita tidak akan melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan Allah. Kalo kita udah takut kepada Allah: urusan keluarga beres, kerja beres, berbakti sama keluarga beres. Kalau takut sesama manusia urusannya gak bakal ada yang beres.

Sebenernya pak penceramah menyontohkan sebuah cerita: alkisah ada seorang pekerja yang sedang mengerjakan tugas kantornya. Ketika ia tengah menikmati pekerjaannya itu, suara azan salah satu solat lima waktu berkumandang. Ketika diajak untuk solat ia berkata: ntar dulu deh, tanggung nih, katanya.

Lalu pak penceramah bilang bahwa itu adalah tindakan orang–orang yang tidak bertakwa. Dengan begitu semangat dan penuh gelora suaranya terpantul-pantul dengan kuat di dinding masjid: Bukan kepada atasan kerja kita harus takut tapi kepada Allahlah ketakutan itu harus tertuju, karena agama dan solat haruslah didahulukan!

Mmh…gue setuju. Tapi ada yang kurang gak sih?  Pak penceramah nggak menegaskan bahwa kita juga harus menyelesaikan tugas kerja kita dengan baik. Bukan berarti agama didahulukan lantas kerja malah nggak beres. Gue pwiiingin banget kalo penceramah mesjid itu juga menyenggol kata profesionalisme. Kita tahu mana yang harus kita prioritaskan tapi juga mengerti kewajiban kita sebagai manusia yang berprofesi. Ahh, itu, PROFESIONALISME. Hmm.

Bahkan pak penceramah juga mencontohkan bahwa : anak jangan takut sama orang tua. Takutlah pada Allah saja. Tapi pak penceramah tidak menegaskan apa arti jangan takut orang tua itu sendiri. Meskipun kemudian ia sempat mengatakan kata kalau kita takut pada Allah maka berbakti kepada orang tua akan beres. Tapi keitka megatakan anak jangan takut orang tadi tidak langsung dijelaskan maksud didalamnya. (apa gue yang terlalau hawatir ya? Masyarakat juga ngerti kali san! à gitu ya? Mm semoga saja)

Gue juga begitu merindukan penceramah pencermaah masjid yang menyinggung masalah hubungan manusia dengan alam (seperti buang sampah pada tempatnya) karena segala attitude positif kepada alam tidak begitu ditanamkan oleh kebanyakan penceramah kepada hadirin masjidin. Begitu juga hubungan manusa dengan manusia: Mengantri. Tertib. Mnejadi probadi yang dewasa. Hmm, sedih sekali karena ini harusnya didengung-dengungkan juga gak sih? Karena topic ceramah itu agaknya lebih sering dimonopoli oleh hubungan manusia dengan Tuhan tanpa memahami hakikat cinta Tuhan itu sendiri.  Pencerdasan kepada masayarakat muslim Indonesia ini masih begitu rendah (menurut kesotoyan gue)

            2. Kedua menurut Ali s.a lagi: Takwa  berarti berkata dan bersikap menurut alquran dan as sunnah

Nah ini juga. Pak penceramah selalu mengatakan berdasarkan alquran dan as sunnah. Padahal fakta menunjukkan bahwa hobi membaca rakyat indo yang didominasi oleh muslim masih rendah (fakta mbahmu! Ini masih menurut gue yang nggak didukung oleh data sih, hee. Menurut informasi yang beredar saja). Sehingga pemahaman isi alquran dan assunah agaknya belum bisa tercapai. Apa nggak sebaiknya  penceramah-penceramah ini memberikan contoh real dari quran dan assunnah khususnya mengenai hubungan manusia dengan alam dan manusia dengan manusia yang akhirnya didpat muslim yang memiliki attitude yang baik terhadap manusai dan alam.

Selain membuat jumlah manusia yang bisa membaca meningkat, perlu juga tindakan simultan dari penceramah untuk menjadi motivator-motivator lingkup kecil kepada masyarakat muslim gak sih guys? Kan musola dan masjid-masjid bertebaran kayak kacang goring tuh. Apalagi tiap jumat cowok-cowok muslim pada solat dan mendapat ceramah. Dampakanya harusny besar gak sih? Apa gue yang terlalu lebay dan khawatir ya? Hmm.

Tapi iya sih, masalah ini memang kompleks dan menyangkut banyak hal seperti kebutuhan pendidikan masyarakat muslim itu sendiri yang pada akhirnya berhubung pada birokrasi dan negara.

Lupakan dulu deh. Gue juga bingung solusinya jadinya gimana. Ahaha. Ini uneg-uneg gue aja sihh.

Alhasil pak penceramah menutup dengan: prioritaskanlah Allah SWT. Semakin deket sama Allah semakin gampang rejekinya.

Tapi tiba-tiba dia menyebut nama salah satu bakal calon gubernur DKI. Gue langsung shock. Dia berkata begitu semangat: agama ini harus dikedepankan, jika agama dinomor sekiankan, maka tidak akan ada yang beres. Jadi kita harus berdoa supaya bapak blablabla terpilih menjadi gub dki Jakarta nantinya, yang kemudian diamini oleh kebanyakan suara wanita-waita di lantai satu masjid ini. Dan ditutup benar-benar dengan membaca alfatihah.

Gue cuma mikir, ini masa kampanyekah? (hoi, hoi, what the?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s