MALAM 4 RAMADHAN 1433 H: ADAKAH INI PERLU DINAMAI?

suka suka

Ini semua berawal dari Endang. Dia adalah adik ibu saya yang paling kecil yang bahkan usianya 3 tahun lebih muda dari saya. Malam ini, ketika saat-saat untuk berangkat tarawih tiba, dia masih ada di kampus dan tidak bisa menamani saya tarawih di masjid biasanya, Ar Rohmah. Keluarga saya yang lain lebih suka tarawih di Musola Al Ikhlas di dekat rumah yang jaraknya hanya sekitar 100 m dan tidak ada ceramah sehingga bisa pulang lebih cepat. Ada lagi musola terdekat kedua, tapi selalu penuh dan kurang membuat saya tertarik untuk solat disana meskipun kabarnya barisan saf wanitanya lebih rapih dan tidak diributi suara cekikikan aau obrolan anak-anak. Anehnya, saya malah tertambat untuk solat di tempat ibadah yang jaraknya paling jauh dari rumah, 500 meter-an, Masjid Ar Rohmah. Ia lebih luas, tidak menimbulkan kesan sesak meskipun dipenuhi jamaah dan ada ceramah yang bisa saya tulis di blog. Ceramah yang menimbulkan antusiasme saya untuk menulis karena berisi hal-hal yang kontroversial. Meski kontroversial yang sama.  Tapi sayangnya, kondisi barisan solat di masjid ini begitu mengenaskan terutama untuk akhwat. Seolah hal ini seperti memilih tempat duduk di rumah makan, bisa dimana saja sesuka kita (ahh, saya memang merasa selalu cupu untuk mengatur bejibun jamaah ini untuk berbaris rapih).

Barisan saf wanita masjid ar rohmah yang semrawut membuat saya merindukan Salman. Di Salman, ada satu imam yang begitu ketat mengatur barisan saf yang rapih. Ia tidak akan memulai sebelum barisan jamaah pria dan wanita benar menurut hadis. Ia detil sekali tentang ini. Ia tidak akan mengizinkan ada barisan yang lengang. Kedua pundak atau kaki harus berimpit ke jamaah lain, sehingga tidak ada space kosong antar jamaah.

Dan memang benar adanya, itu adalah pekerjaan imam. Ia memiliki kuasa untuk melakukan ini. Dan Salman memiliki dua wanita perkasa untuk mengatur barisan jamaah putri yang lebih sulit diatur.

Mengingat hal ini saya begitu kepikiran untuk menemui pengurus masjid Ar Rohmah dan mendiskusikan hal ini. Tapi akhirnya semua itu hanya sebatas rencana. Ahaha.

Tapi malam keempat ini saya akhirnya solat di musola yang paling dekat rumah. Padahal saya biasanya bukan tipe yang membutuhkan teman untuk pergi kemana-mana. Saya juga tidak tahu kenapa malam ini saya seperti itu, ahh, tapi memang terkadang saya mengalami hal ini, penyakti ingin ditemani ini suka kambuh.

Okey, tentang musola.

Di musola terdekat ini, lebih banyak diisi oleh warga rt rumah saya. Musola Al ikhlas. Musola itu memiliki dua lantai. Diatas untuk wanita dan pria. Dan lantai bawah untuk wanita. Tidak biasa yaa. Ini karena hall utama musola ini adalah lantai atas. Saya duga, lantai bawah dulunya digunakan untuk menyimpan barang (melihat masih ada beberap barang yang disimpan di lantai bawah itu).

Malam ini, di lantai bawah lumayan penuh, ada dua saf jamaah wanita yang memenuhinya dan setiap saf penuh diisi 10 orang.  Di Ar Rohmah, saya bisa mengasingkan diri karena tidak banyak yang saya kenal, jamaah berasal dari berbagai rt bahkan rw. Sedangkan jamaah di musola dekat rumah, semua jamaahnya saya kenal, minimal saya tau dia warga rt tempat saya tinggal.

Malam 4 Ramadhan ini saya tak segairah biasanya untuk menuliskan kisah malam ramadhan ini. Saya tidak mendapat aura ceramah yang menimbulkan antusiasme untuk menulis.

Sigh.

Jadi kita salahkan Endang ya. Ahaaha. Bisa dipukul bakiak kalau dia baca ini.

Selain saya yang mudah bosan, saya juga tidak terlalu suka menonjolkan diri di tempat begini. Jamaah wanita dibawah memulai berdiri untuk tarawih selalu ketika surat alfatihah hampir selesai, jadi saya selalu menjadi orang yang berdiri pertama. Atau paling cepat dari mereka adalah ketika ayat pertama sudah selesai dibacakan. Ternyata saya tidak fokus solat. Rindu Salman pisan.

Disini tidak ada ceramah. Saya juga jadi merindukan untuk mengutuk-ngutuk penceramah ar rohmah yang hobi kampanye. Ah mungkin setidaknya, disini saya bisa lebih bersua dengan tetangga.

Ini saya ngomongnya kemana-mana ya. Ah, sudahlah, mengikuti Ayu Utami: adakah ketidak fokusan saya bercerita ini perlu dinamai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s