The Great Landing

suka suka

Alkisah, tinggallah seorang anak muda di sebuah kota antah berantah yang sering disebut dengan kota parahnya angan. Hal ini karena hampir semua penduduk dikota tersebut memang dibuai dengan mimpi-mimpi yang tak kunjung terwujud.

Di kota tersebut, si anak muda sedang merantau untuk menempuh dan mencapai tingkatan sekolah yang tinggi disebuah universitas bernama Institut Tak Berbelaskasih. Meskipun tanpa belas kasih, ia diajarkan untuk pantang menyerah dan pantang mundur.

Ia sendiri begitu menjunjung tinggi integritas akademik. Ia juga amat menyukai sebuah matakuliah yang bahkan diambilnya dalam jangka waktu di dua semester ganjil (aka. ngulang). Baginya, ilmu adalah ilmu. Sebuah simpanan yang dibutuhkannya untuk investasi masa depan. Tanpa integitas, ilmu yang didapat hanya akan seperti buih dilaut. Petuah sang ayah yang selalu ia jaga.

Di suatu hari kamis, kuliahnya hanya jam 8-9 pagi. Tapi karena kehidupannya yang nokturnal, ia baru bangun jam 7. Tapi tiga puluh menit baginya adalah waktu yang cukup untuk persiapan berangkat.

Ia menurunui anak tangga satu-persatu setelah semuanya beres. Sampai di depan pintu rumah kontrakan, ia menepuk jidatnya sendiri.

“Arghhhh, kunci gue kan hilang. Yang lain juga udah pada berangkat pula”

Dia masih berdiri dibalik pintu dan berfikir. Sesaat kemudian, ia melepas sepatu yang dikenakkanya, Ia ganti sepatu cantiknya dengan sepatu kets yang kokoh. Dengan cepat ia menaiki tangga dan berdiri di pinggir teras lantai-2 rumah kontrakannya. Ia lewati pagar teras yang hanya setinggi 1 meter tanpa ragu dan melewati atap rumah tetangga depan.

Ia menarik nafas panjang. Mencoba mengumpulkan segenap keberanian. Dari posisi berdiri, ia pun jongkok mencoba mengira ketinggian atap ini.

“Cuma sekitar 2,5 meter, bisa lah” katanya mendukung dirinya sendiri.

Namun ketika berdiri, ia merasa jarak semakin lebar dan membuat nyalinya menciut. Ia kembali ke dalam teras rumahnya untuk mengurungkan niat. Tapi, ia sungkan, Ia tak mau melewati kuliah pagi ini, kuliah dari seorang dosen favoritnya. Tidak boleh terlewat satu detik pun.

Ia memang tidak hawatir untuk melompat mengingat rumahnya dipojok tanpa ada orang yang lewat. Setidaknya ia tidak akan dijadikan bahan pembicaraan tetangga jika semua ini berjalan dengan lancar.

Lima belas menit telah berlalu, ia masih berdiri terpaku di atap. Beberapa metode sudah terlintas, seperti menggunakan kasur yang diikat-ikat seperti diberbagai film, atau menggunakan tali. Tapi tidak ada bagian yang bisa diikat, tiang yang ada hanyalah paralon air. Baginya, paralon itu begitu rentan untuk menahannya.

Yang dibutuhkan hanya action, Guh! Tak perlu berpikir panjang. Katanya dalam hati. Dan seketika itu,

BUMMMMMMM!!!!

Anak muda itu mendarat. Ia bisa melihat debu-debu berterbangan dengan pola yang khas. Pose mendarat harus jongkok, tidak boleh berdiri. Setidaknya itu yang ia ingat dari sebuah pelatihan dari kodim siliwangi beberapa bulan lalu agar tidak mematahkan kakinya.

Tapi sepersekian detik dari pendaratannya, kakinya tak mampu menumpu tubuhnya, ia langsung terkapar di lantai. Jalan yang sepi itu kini menjadi ramai dengan ibu-ibu yang seketika keluar dari rumahnya. Mereka menuju ke anak muda yang tergeletak terkapar bersamaan dengan satu pertanyaan:

Ada apa? Ada apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s