Pesan Singkat (Episode1)

suka suka

Lampu-lampu kendaraan yang melintasi cipularang samar-samar menyinari papan kilometer di pembatas dua jalur tol yang sedang aku lewati. Papan bertuliskan kilometer 92 dapat aku baca sekelebat diluar sana juga karena lampu bus yang aku tumpangi membantu memperjelasnya.

Empat puluh lima kilometeran lagi. Otakku memberikan hasil hitung cepat jarak sisa yang harus aku tempuh.  Aku merebahkan kembali kepalaku ke kursi dan mencoba menutup mata lagi. Dalam lamunan mata yang tertutup, sesekali terlintas Tugas Akhir yang harus segera aku selesaikan.  

Hhhhh..Aku hanya mendesah panjang mencoba mengumpulkan segenap energy bahwa aku bisa menyelesaikannya tepat waktu dan keluar dari Universitas Bandung segera.  Bus masih berjalan lancar, kepala juga masih kurebahkan disandaran kursi, dan aku mengambil handphone disaku jaket. Kubuka handphone flip itu. Ku lihat bagian layar yang menunjukkan pukul 20.51. Perjalanan malam ini ternyata lancar dan cepat, syukurlah. Aku tutup handphone itu dan kukembalikan ketempat semula. Tapi kemudian,

Drrtttt, drtttt….Sms masuk.

Novri? Kataku dalam hati.

Man, sori ganggu malem-malem…

Belakangan ini dia jadi lebih segan. Yahh, yahh..gapapa sih. Aku mengerti. Sepertinya dia berusaha menjaga jarak dan tidak mendiskusikan melulu tentang orang itu. Kubaca sms itu selesai,

Tau ini nomer siapa gak? 08572148xxxx

Sebelum membalasnya, aku mencoba membuat panggilan ke nomor tersebut untuk mengecek pemiliknya. Nada tunggu mulai terdengar di telinga tapi tak ada nama pemilik nomor itu muncul di layar. Aku memutuskan panggilan dan mengetik sms balasan ke novri:

emang lo pikir gue pusat informasi, hah? Heehe. Ampun Nov. Gue gak tahu, gak ada di phonebook. Emang lo diapain sama pemilik nomer itu?

Novri sms lagi.

Hahaha. Gak diapa-apain kok awak. Sip-sip. Thanks ya Man.

Okeee.

Dua bagian hanphone flip itu aku satukan. Aku kembali melihat keluar jendela bus. Ahh, pemandangan diluar masih sama, langit hitam yang tak berbatas. Uluman senyum tersungging begitu saja dari sudut bibirku tanpa kurencanakan. Novri, Novri. Dia itu menarik. Seperti pemuda-pemudi lainnya, suatu saat mereka pasti mengalami apa yang namanya cinta. Cinta yang diembankan kepada seseorang yang ingin dijadikan pasangan hidupnya.

Dan karena rekayasa Tuhan, seseorang yang menjadi dambaan Novri adalah yah bisa dikatakan salah satu teman baikku, teman dekat, teman sepermainan, si orang itu. Entah teori darimana, tapi nampaknya jika ada buku berjudul 9 cara mendekati pasangan yang anda impikan mungkin selain mendekati keluarganya atau mendekati keluarga anda dengannya adalah dengan mendekati sahabatnya. Cari informasi darinya dan perdalam calon pasangan yang anda harapkan dari sahabat dekatnya. Mungkin ini yang sedang Novri lakukan. Aku tersenyum lagi, sebagai ungkapan mengerti. Itu adalah fitrahnya sebagai manusia. Ia kini sedang memperjuangkan kemana masa depannya akan ditentukan dan bersama siapa dia akan melaluinya. Aku adalah objeknya yang sadar.

Meski Aku, Novri dan juga orang itu bukanlah penganut pacaranisme, tapi aku tidak bisa juga menghakimi Novri bahwa yang dia lakukan untuk mencari informasi orang itu dariku adalah hal yang salah. Selama pertanyaannya sejauh yang aku tahu dan sesuai koridor yang aku yakini itu benar dan boleh dijawab, aku rasa tidak masalah. Masalah ini benar atau salah secara agama, hmm, biarkan Tuhan yang memberikan petunjuk untuk Novri. Dan untukku juga mungkin ya. Aku kembali mengulum senyum.

Tapi sekarang-sekarang ini, dia nampaknya sudah jarang menanyakan orang itu lagi. Something happened, I believed. Aku hanya menduga ia saat ini sedang bertahan, defend. Dia sudah melempar bola, tentang apakah bola itu akan ditangkap orang itu atau tidak, atau apakah novri sudah tahu bola itu tertangkap atau dikembalikan lagi padanya atau bahkan diacuhkan, yah, setidaknya ia sekarang menurutku sedang bertahan, bertahan dari derita cinta yang menimpanya. Makanya smsnya sekarang pun sering tidak ada sangkut pautnya dengan orang itu. Tapi karena aku tidak terlalu peduli urusan orang lain, aku tidak pernah tertarik membuktikan kebenaran hipotesisku ini. Itu urusan mereka.

Bus masih melaju di tol. Aku mengambil bantal dan kuletakkan sebagai tumpuan agar aku bisa bersender di jendela tanpa merasakan getaran bus. Sms masuk lagi. Dari sebuah nomor tak bernama. hmmm. Ternyata pemilik nomor yang Novri tanya itu jenis manusia berpenasaran tinggi.

Maaf, ini siapa yaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s