Kisah Cinggu di Malam Minggu

suka suka

Dari dulu, aku memang tidak pernah menyukai binatang, bukannya aku membenci mereka lho. Selama mereka tidak mengganggu kehidupanku, maka mereka juga bisa hidup dengan tenang dan damai, dan kubiarkan mereka berkeliaran disekitar. Tapi jika mereka sudah mulai mengikuti atau mencoba mengelus-elus kakiku, maka mereka harus waspada.

Seperti seekor kucing bunting satu ini, cinggu namanya. Cinggu selama ini sudah dinobatkan sebagai kucing peliharaan salah satu temanku bernama Mega (nama sebenarnya). Pekan itu, aku harus ke Bandung menyelesaikan beberapa perkara kehidupan. Dan demi bertahan hidup, maka aku yang menjadi tunawisma baru kota Bandung tentunya harus sigap mencari tumpangan, dan rumah kontrakan Mega dkk menjadi top five pilihanku untuk nebeng tinggal. Hhahaaha.

Malam itu, Cinggu juga bermalam disana. Malam-malam sebelumnya yang aku juga pernah tinggal disana, Cinggu selalu tidur di luar jika malam tiba dan aku tak akan terganggu. Tapi malam itu, Cinggu ikut tidur di dalam rumah. Dan arrgghh, aku tidak suka jika dia mulai mengikuti ku kemana aku pergi: ke dapur, ke kamar mega yang aku bajak (Mega menbajak kamar lain, hhaha), ke ruang tengah, even ke kamar mandi…  i dont like it very much! hhhh!

Jika aku kekamar mega, maka pintu kamar akan aku tutup rapat agar cinggu tidak bisa masuk. Saking geramnya ketika aku harus membereskan barang-barang di dalam kardus yang aku titip dirumah Mega dkk di ruang tengah dan Cinggu masih mengikuti dengan setia, maka ia aku kunci di kamar mega. Pintunya tidak aku kunci sih, aku hanya menutup kamar mega yang jika di buka  dari dalam harus ditarik. Aku pikir, pekerjaan mendorong itu lebih mudah dari pada menarik, maka aku yang masih punya hati ini memutuskan untuk tidak mengunci pintu kamar tersebut.

Cara mengunci Cinggu? ahh, tentu saja tidak aku angkat si cinggu itu, aku cukup masuk kamar, dia mengikuti, sampai di kamar, aku cepat keluar dan pintu aku tutup segera. HHahaaha #evil laugh. Aku bisa beraktivitas di ruang tengah dengan tenang.

Tapi sesaat kemudian: Cinggu keluar dari kamar mega!!

Kesal, tapi aku juga kagum padanya.

Sebagai apresiasi, aku biarkan dia lagi sesaat bermain-main dengan bebas (selama dia tidak menggangguku, maka aku juga tidak akan mengganggunya). Sebelum aku kelar membereskan barang-barangku di ruang tengah, Cinggu mencoba mendekati kakiku dan mencoba menyentuhnya. Udah berkali kali aku bilang: “go away cinggu! sana main sendir! hush hush!” dari nada rendah sampai nada tinggi, cinggu tetap tampak tak peduli.

Akhirnya aku putuskan lagi untuk menguncinya dikamar lain, kamar Isan. Aku kunci pintu kamar Isan dari jendela kamarnya yang menghadap ruang tengah, jendela kaca horizontal bercelah yang cukup untuk kucing lewat sebenarnya. Aku curiga Cinggu akan keluar dari celah itu sihh. Dan yakk, Cinggu dengan lihai keluar dari jendela sepersekian detik setelah gue penjarakan. Gilak! nyerah gue, nyerah!

Dalam kekalutan yang mendalam, muncullah kesatria penyelamat yang sebenernya udah ada dirumah mega dari tadi: mbaknya Diniii…kita berikan standing applause untuk my brave knight. haaha. Ternyata dia pecinta kucing juga kaya mega, T_T (kenapa baru sekarang manggil cinggu mbak?) haaha. however, lega bangets, aku bisa beraktivitas di ruang tengah dengan bahagia. Setelah kelar membereskan barang-barang, Aku langsung masuk kamar mega dan  menutup pintu. Rapat rapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s