Sisi Lain Mas Choi

suka suka

Aku bersiap-siap. Nafas aku atur sedemikian rupa. Posisi kaki dan tangan aku atur maksimal. Kaki meyangga dengan kuat, dan tangan siap menarik tali tambang kapal sampai menjatuhkan lawan.

Aku tak perhatikan anggota satu timku yang lain. Tapi aura ini, aura final tarik tambang, mempercepat denyut jantung, tak ada kata-kata, semua bersiap dan mempersiapkan diri untuk menarik tali sekuat tenaga, hening dan tegang. Hiruk pikuk penonton seolah hanya gonggongan yang berlalu.

Sambil mengambil posisi memegang tali kapal, Mas Choi kembali berteriak dari barisan belakang menggelegarkan seantero Dufan. Seolah kata-katanya berhasil membuatku bisu. Bagai bensin yang mampu meledakkan, menjalankan dan menguatkan semangat kami.

“Guys, lawan kita gede-gede”

“Kita kalah…..tapi nggak hari ini.”

Tak ada yang menyahutnya. Kami semua tetap terdiam dan fokus dengan tali yang kami pegang. Aku makin mantap menarik tali besar bodoh ini.

——

Di pertandingan tarik tambang babak pertama, Mas Choi sekelibat menunjukkan kecongkakannya. Ia mondar mandir dari depan ke belakang mengatur barisan dengan suara lantang.

“Semuaa!! semua harus pake sarung tangan. Yang belum pake, pake duluu”

Katanya sambil mengangkat kedua tanggannya yang telah disarungi sarung tangan hitam.

“Lawan kita Cinderella. Tarik habis sekali tarik”

Aku berkomentar, “Haaha, congkak beut ya kita”

Holland Bakrie yang berdiri di depanku menyanggah, “Emang harus gitu”.

Aku tak menyahutnya.

Tapi dasarnya, ini memang pertandingan mental. Mental lawan harus dilemahkan.

Aku tidak terlalu setuju, meski ada benarnya juga. Sepenglihatanku, Mas Choi tidak sepenuhnya menjelekkan orang lain. Alam bawah sadarnya mungkin mendorongnya untuk menyemangati kami, timnya, dengan caranya. Jelas, secara struktural dia bukan ketua tim ini. Tapi keberadaannya, tidak jelek juga untuk disyukuri.

Sikap Mas Choi yang tampak seperti pelatih terlihat tidak dibuat-buat, bukan untuk mencari perhatian dan bukan untuk dilihat hebat. Kalau ternyata itu dibuat-buat, maka sungguh, Mas Choi harus ikut casting film. lol. Auranya menyusun posisi pemain sungguh terpancar. Ia tak seperti Mas Choi yang kulihat setiap hari kerja di kantor. Yang suka bercerita, sangat kekakak’an dan juga sangat kebapak’an. Di kantor, ia terlihat santai dan selow. Tak ada pancaran semangat prima 45 darinya. Tapi siang ini di Dufan, aku melihatnya sebagai seorang kakak dan pelatih yang keras sekaligus. Tidak berlebihan jika aku terkesima bukaan?

Cinderella tak semudah itu, ia tak bisa kami kalahkan sekali tarik.

——

Di pertandingan final, Mas Choi masih mondar-mandir menyusun strategi mengatur posisi pemain. Ia berjalan kedepan melewatiku yang berada ditengah, “Yang suka fitness di depan. Yang kuat di depan…”

“Yang belakang juga penting” Potongku datar

“Yang belakang juga penting” Mas Choi mengulangi lebih keras,

Aku tidak tahu dan tidak memerhatikan bagaimana Mas Choi mengatur pemain bagian depan.

Kata-katanya memang ada benarnya, lawan besar-besar dan kuat.

Di depanku, salah satu kaki Bagus bertumpu pada bagian antara lantai keramik. Kakiku juga kutumpu pada bagian antara lantai keramik. Berharap mampu membantu kami menarik hangus tim lawan. Kami satu tim berupaya memenangkan pertandingan ini. Aku pun sangat bertumpu pada bagian antara lantai hingga sepatu selopku lepas. Pertandingan final hanya dilakukan dua putaran, dan kami kalah dikeduanya.

Meski begitu, aku masih merasakan semangat yang Mas Choi gaungkan.

Aku cerita ke Irawanto tentang suasana internal di pertandingan tadi. Dan kami sepakat tentang Mas Choi: dia memang tipe pengayom sejati dan calon ayah yang baik, tapi tidak tahu untuk jadi calon suami. Haahaha piss Mas Choi. We lop you pull.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s