Mari Kita Redam Api dengan Air dan CO2 Saja

suka suka

Perasaan sunguh merasa diinjak injak. Rasa sedih yang memuncak membuatku tak bisa membendung air mata. Sungguh, aku bukan seorang pejuang islam sejati. Islam adalah agamaku. Aku meyakininya dan menjalaninya sebagai jalan hidup yang aku pilih yang pada akhirnya secara sadar, bukan jalan keturunan semata.

Aku bukan pejuang islam sejati, aku tak terlalu tersentuh dengan karikatur Muhammad yang dilecehkan, aku hanya tahu, aku harus sedih dan berduka terhadap hal itu. Palestina bertikai, ribuan rakyat mati, aku tahu aku harus bersedih terhadap itu, itu dari akalku yang berbicara. Rohingya tertindas. Sungguh, hatiku masih tak tersentuh. Tapi aku tahu, aku harus mendoakan mereka dan berduka terhadapnya. Pun ketika berita Mesir saat ini. Aku tahu, itu merupakan pembunuhan genosida yang sangat keterlaluan. Hati ini tapi lumayan tersentuh. Melihat mayat bergelimpangan. Aku selalu menganggap bahwa manusia memang serakah, itu adalah sifat yang diberikan Tuhan sendiri. Keputusan manusia untuk bertindak adalah keputusannya. Hatiku masih belum terjamah sepenuhnya.

Tapi berita malam itu, membuatku tak bisa berkata kata. Bukan tentang mesir, bukan tentang pak Rudi, dan bukan tetang 17an. Malam Jakarta yang sepi membuatku makin larut dalam kesedihan yang dibuatnya. Ini tentang FPI.

Aku juga merasa tindakan FPI seringkali berlebihan terhadap hal hal yang berbau non-Islam. Seperti Ahok yang mengurusi pembersihan pkl tanah abang. Aku baca dari sebuah media ternama bahwa FPI terkesan menyuruh Ahok untuk mengurusi persoalan psk terlebih dahulu sebelum mengurusi tanah abang. Aku tidak terlalu setuju dengan alasannya. Itu bukan tindakan yang solutif, menurutku. Aku tahu persoalan psk juga penting. Tapi masalah yang dihadapi Ahok untuk pembersihan pkl tanah abang, membutuhkan dukungan. Jelas, itu adalah program yang demi masyarakat. Kenapa malah dikecam dan dipersulit masyarakat sendiri? Dan FPI malah membantu mempersulit.

Tapi meski demikian, aku selalu berusaha untuk tetap menghargai FPI dengan pendiriannya, bagaimanapun ia. Karena Tuhan tidak pernah sekalipun sedikitpun melecehkan makhluknya, siapapun, apapun. Itu yang ku percaya. Jika api dilawan dengan api, yang aku tahu tetap akan menjadi api yang bahkan makin menyulut dan memperburuk keadaan. Bukan tentang siapa yang lebih lemah dan kuat. Ini tentang sikap hidup.

Malam itu, aku membaca tentang status fb seorang teman. Dengan status bahasa inggrisnya yang panjang aku tidak terlalu tertarik, aku skip, lalu waktu aku kembali scroll home fb ke atas, aku coba baca statusnya, ooh , tentang FPI. Aku harus baca dua kali untuk mengerti.

Ternyata ada sebuah grup fb berjudul: bubarkan FPI. Dari layar hpku yang kecil, cover foto grup itu membuatku miris. Aku sediih, sangat sediih. Sepasang kaki cantik berkuteks merah tua seperti warna pacar menginjak dua halaman alquran yang terbuka lebar.

Hatiku hancur. Saat itu aku merasa harga diriku diinjak injak.

Mereka membenci FPI? Atau membenci islam? Aku tidak peduli siapa mereka. Yang aku tahu, saat itu juga aku sangat terpukul. Kebanggaanku rasanya hancur terinjak injak, harga diriku direnggut, hatiku sangat tercabik, pedang rasanya telah menembus jantungku, membelah sanubari yang aku miliki. Seolah aku dilempar dan ditenggelamkan kedasar samudra. Aku begitu terluka. Aku tak bisa membendung air mataku lagi.

Kenapa mereka sangat membenci islam?

Oke, mereka membenci FPI. FPI adalah gerakan terdepan pembela islam. Maka islam harus dihanguskan? Dari muka bumi? Mereka tahu? mereka seolah telah merenggut seorang sahabat dan keluarga dariku begitu saja. Aku tidak tahu, aku tidak tahu kenapa akhirnya aku tak bisa membendung air mata. Aku tak tahu. Aku bukan anggota FPI. Aku bukan orang-orang di garda terdepan pembela islam dalam kehidupan sehari sehari. Yang aku tahu, aku islam, dan tuhanku adalah Allah yang esa. Semua yang aku kerjakan dimuka bumi adalah untukNya. Kebahagiaan yang aku berikan untuk keluargaku, kebaikan demi kebaikan yang selalu berusaha aku lakukan, bukan untuk siapa siapa, selalu aku coba lakukan untuk mendapat ridhonya saja.  Dan kenapa, mereka ingin memisahkan aku dari apa yang diwariskan Tuhan untuk manusia, untukku, alquran itu?

Aku hanya seorang pegawai kantoran yang bahkan enggan berpolitik. Tapi aku juga tidak mengecam orang orang yang mau berpolitik atau berdemonstrasi. Setiap orang punya pilihan hidup, kan? Tapi kita hidup bersama bukaan? Alangkah indahnya jika pilihan hidup kita masing masing tidak mengganggu kehidupan pilihan hidup orang lain.

That’s why. Cara hidup islam mengganggu pilihan hidupku. Begitukah dalam benak mereka jika aku boleh menerka? Tidakkah bisa dibicarakan dan diutarakan dengan lebih bijak dan dewasa. Aku tak bisa menahan rasa sedih ini.

Dan lagi malam selanjutnya, sebuah spanduk yang (katanya) di pajang di dekat gerbang sipil kampus ku.

Ini tentang alamamater. Ini (lagi) tentang sebuah kebanggaan. Dan kembali kini ia dilecehkan. Sebuah spanduk bertuliskan: (“Bakti kami untukmu: Uang, Bangsa Lain dan Mafia Migas” alumni itb pro sby.)

Almamaterku kali ini dilecehkan.

Masalah pak Rudi bahkan masih dalam proses. Belum ada bukti. Apakah dengan menjelekkan dan menjatuhkan membuat kita bahagia?  Masih adakah hati di negeri ini? -2-

Untuk siapapun.

Mari kita redam api dengan air dan co2 saja. Hanya itu yang terpikir olehku. Untuk Indonesia yang semoga mendewasa (repost doa seorang teman). Selamat Ulang Tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s