FOR THIS ONE YEAR #1

suka suka

Tiga orang pemuda Kahfi terjebak di dalam gua selama ribuan tahun. Membosankan pasti berada didalamnya apalagi tanpa melakukan apa apa. Tapi keterjebakan itu adalah kisah epik yang dihadiahkan Tuhan pada mereka bertiga. Just like a magic, mereka hanya merasakan ribuan tahun itu seperti semalam saja.

Dan aku, 350 harian saja sudah bekerja di DECI. This one year seems like only as fast as I slurp the air. Tapi dalam rasa waktu yang begitu kilat itu ada jutaan kisah yang kadang membuat neuron di otakku berjumpalitan marah. Ada berjuta inspirasi yang aku dapat yang mampu meregangkan saraf-sarafku yang saling melilitkan dirinya, yang kadang juga berhasil dengan hebat membuat bola mataku hampir keluar meski tak pernah berhasil. Ada bertumpuk tumpuk kisah yang juga sering membuat jantungku tak bisa memompa darah dengan baik. Dan tak sedikit kisah-kisah tidak penting yang hanya membuatku berekpresi “haaha” ketawa bego. Belum lagi kisah-kisah yang tak bisa aku tampung dalam memoriku yang terbatas. Ahh, terlalu banyak dalam rasa waktu yang kilat itu.

Dan malam itu, Langit menitahkan DECI bersama Tempo Scan Tower menghadiahi aku sebuah kisah epik yang melibatkan hampir semua indera manusiawi yang ku miliki. Membuatnya mustahil untuk dilupakan. Sebuah kisah epik yang menguji keimananku, rasanya. Bersama Anna, aku berjuang melaluinya.

***

Pekerjaan yang menumpuk selalu berhasil memaksa kami melemburkan diri. Malam itu, tidak banyak yang lembur, karena memang hanya kami berdua yang agaknya dalam keadaan fullbooked oleh revisi spool drawing. The Overtime King Fidbro pun sudah menurunkan dirinya dari tahta perlemburan untuk hari itu. Bos Adit juga dalam kondisi terlihat sumringah dan bergegas pulang setelah azan Isya (ini jam standar Adit pulang cepat memang). Begitu juga penguasa Mariner baru, bos Arifal, tak lama setelah Adit pergi, ia juga tutup warung. Dan setengah sembilan, Ajeng pamitan balik.

Aku dan Anna masih berkutit memperbaiki spool spool drawing brengsek itu. Dan tinggal kami berdua disana, menguasai 16 kubikel kosong piping group tanpa keinginan kami untuk menguasainya. Detik jam terus berputar. Anna memutar lagu lagu lawas The Beatles menemaninya bekerja. Lagu-lagu itu tak sampai terdengar sampai kubikelku. Aku pun baru sadar ia memutar lagu setelah bertandang ke kursinya.

Jam sembilan lewatan, ada suara Tito menyapa Anna. Bertanya masih bekerjakah dan sama siapa. Anna menjawab lugas masih bekerja bersamaku yang duduk terpisah satu kubikel dengannya dan dipisahkan seuprit access way.

Kami melanjutkan pekerjaan kami tenang terkendali. Tak lama kemudian, sekitar 21.15, empat pemuda stress bertandang ke daerah kekuasaan yang tak ingin kami kuasai itu. Dengan penuh jiwa ksatria dan heroisme seperti sosok Bima yang selalu melindungi wanita dalam kisah pewayangan, Nauval, Mas Bambang, Lasut dan satu kawannya menunggui kami bekerja dengan janji palsu kami mengatakan 15 menitan lagi.

Aku tak yakin bisa selesai 15 menitan lagi sebenarnya. Aku juga tak pernah bisa bekerja dengan tenang jika ada yang menunggui. Akhirnya aku katakan pada Anna, rasanya kalau kita berdua saja tidak apa apa. Keberanianku pun masih berada pada level sangat baik saat itu, toh tidak seorang diri. Tadi pun Anna meninggalkanku sendirian berada diantara 16 kubikel kosong itu ketika ia “mencari inspirasi” ke kamar mandi. Anna pun tidak ada masalah pergi ke kamar mandi dalam waktu lama seorang diri. We are fine at that time! Sampai Anna kembali dari kamar mandi pun aku masih tenggelam dalam revisi spool drawing. Dan Anna fine fine saja juga dengan kami tak perlu ditunggui empat pemuda itu.

Sambil menunggui kami berdua, mereka berempat berbincang bincang di kubikel sebelahku, kubikel Mas Ageng- Pradit. Isi perbincangan mereka sesungguhnya tak bisa diampuni. Mereka membahas cerita-cerita mistis yang terjadi di deci selama ini disebelah kubikelku. Membuat otakku jadi kepikiran sih, sedikit. Tapi aku masih tak terlalu menggubris. Aku sudah berhasil dipelet dengan sempurna untuk hanya berpikir tentang revisi spool drawing, aku hanya ingin merampungkan revisi 4RK GRE titik. Ekspresiku hanya ketawa bego “haha” mendengar percakapan mereka.

Kemudian pun aku katakan pada mereka untuk tak perlu menunggui kami. Aku khawatir masih sampai setengah jam lagi, jam 10an, kataku pada Nouval dkk. Mereka berempat tidak terlalu yakin meninggalkan kami jika tinggal sebentar lagi, tapi juga merasa yauda deh gapapa. Mereka tidak langsung pergi. Ketika aku pastikan lagi bahwa kami tidak apa apa berdua saja disini mereka mulai melihat kemantapan kami dan pernyataan kondisi baik-baik saja kami akhirnya diterima.

Sewaktu tadi mereka berbincang bincang tentang cerita mistis deci itu, Nouval sempat bertanya padaku apakah aku pernah mendengar suara suara goib atau tidak. Dan bodohnya, apakah ini karma untukku? Aku katakan pada Nouval dengan datar, belum pernah. Aku memang suka mencoba hal-hal baru, tapi tidak untuk satu pengalaman hal baru itu. Terimakasih.

Sebenarnya aku terganggu dengan cerita-certa mistis itu. Tapi aku tak terlalu menggubris karena selalu percaya bahwa ya,,,,”mereka” memang ada. Dan tak usah terlalu dipikirkan, fokus malam ini adalah selesainya revisi spool drawing GRE 4RK titik

Nouval dkk pun pergi. Di belokan, Nouval meninggalkan kami dengan kalimat super kejam, “Nanti kalau denger apa apa hati hati yaa…”

Nouval emang minta dilempar sepatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s