RESUME (?) MENGADILI ANIES BASWEDAN

suka suka

Waktu denger kabar Anies Baswedan mau nyalon jadi presiden, jujur, gue kecewa banget. Ada jerit keras dalam hati gue yang berkata: its not now Anies, not now. Lo belom saatnya keluar. Lo nggak haus kekuasaan kaya orang-orang pemerintahan yang brengsek itu kan? Siyapa gue ya.

For sure, gue tahu Anies Baswedan itu tokoh keren. Dengan kapasitas gue sebagai seorang pengamat politik ece ece, gue nggak sreg jika bapak ganteng Anies Baswedan yang mukanya ketimur-tengahan itu menjadi presiden RI terpilih dalam pemilu 2014 ini. Weits tenang! Bukan karena wujudnya yang kaya orang timur tengah terus jadi nggak pas jadi pemimpin Indonesia. Dari segi wajah kok nggak Indonesia banget ya. Ah, ini terlalu klise, emang yang Indonesia banget itu yang kaya gimana? Wong, dari Sumatra ampe Papua bentukan Indonesia itu nggak ada satu bentuk kesimpulan. Rasnya beda-beda. Gradasi warna kulit, bentuk rambut udah paling ramek. Canggih nggak sih negara ini? Kan, gue mulai nanya sendiri jawab sendiri. Eniwey, selama di dalam dadanya ada Garuda, siapapun dia, gue dukung untuk maju memimpin negeri yang gigantik ini.

Nah, yang bikin gue nggak sreg itu gan, karena ya as we know gitu kan, Anies Baswedan tu imagenya udah pendidikan banget. Dengan Indonesia Mengajar yang telah dia bangun. Dengan latar belakang dia sebagai seorang akademisi. Lebih cocok dong jadi menteri pendidikan dulu aja? Ya nggak sih? Ya nggak sih? Anies tuh (terlihatnya) udah spesifik banget jagonya, pendidikan. So, please Anies, fokus dulu nanganin pendidikan negeri yang lagi puber ini. Please~ (dengan muka kyut cheribel).

Bahkan waktu ngeliat poster Mengadili Anies Baswedan di sosmed, gue gak terlalu tertarik untuk ngebaca beritanya. Acara apakah itu. Dan tentang apakah itu. Hati gue masih tertutup gitu untuk menerima kenyataan tentang pencalonan Anies jadi capres atau semua hal tentang Anies. Apakah ini yang disebut dengan benci karena mencintai? Ah, rasa apakah yang sedang gue alami ini sesungguhnya oh Tuhan? Pfft.

Tapi kemudian, langit mengirimkan seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya, temen kantor gue, yang geliatnya sih pendukungnya Anies. Eh atau jangan-jangan, lo relawan turun tangannya Anies Baswedan ya, Jel? *nyengir.

Jel temen kantor gue yang nggak ingin disebut nama aslinya itu, ngasih tau acara Mengadili Anies itu, dan gue jadi teringat lagi poster di sosmed yang pernah gue liat. Setelah memandang langit Jakarta dari lantai 30 kantor gue sehabis solat Ashar, gan (pfft), pintu hati gue sedikit terbuka. Sedikit. Mayan lah. Gue akhirnya mencoba bersikap adil dong, dan mencoba mau untuk mendengarkan penjelasan Anies dengan keputusannya untuk maju itu. Bergabunglah gue di pengadilan Anies Baswedan 5 april 2014 kemaren, di Energy Building SCBD.

Dan lo tau, di acara itu, Anies berhasil mencuci otak gue dan membuat gue yakin bahwa dia memang layak mencalonkan diri menjadi presiden negara ini, sumpah!

Biar lo tau cara berpikir dia lebih dalam. Gue coba rangkum (yaelah), mm…apa ya enaknya bahasanya, gue notulensi-in, duh, nggak asik juga. Apa ya…mmm, yah, tanya jawab kemaren dan jawaban yang Anies berikan yang gue tangkep lah pokoknya. Sebenernya enakan lo liat langsung pemaparan ybs, karena lo bisa menilainya lebih asik, bisa liat gestUr dia menjawab, keyakinannya dalam berbicara, dan hal hal langsung lainnya (cekidot: http://www.youtube.com/watch?v=Kg3mrMcR_tY ). Tapi seenggaknya, ini ya. Gue forward isi pengadilan yang menarik menurut gue.

 

Program kerja utama bapak?

Anies fokus ke tiga hal: penegakan hukum, pendidikan, dan kesehatan.

Waktu penjelasan dibagian penegakan hukum dan kesehatan, nggak terlalu berkesan. Penjelasannya umum banget dan masih normatif. Bahwa memang dua hal itu penting. Yang jelas, Anies mengutamakan penegakan hukum diantara ketiganya.

Pas ngejelasin pendidikan, ya obvious sih kerennya, tetep berhasil bikin hadirin angguk-angguk dan tepuk tangan. Terkait kritikan terhadap dirinya, kenapa nggak jadi mentri pendidikan dulu aja (dibahas juga disana dong), Anies bilang,

Urusan manusia kenapa jadi urusan menteri saja? Tau kenapa singapura, korea selatan bisa menjadi seperti sekarang?….

(Jeda sekian detik)

….karena dipimpin oleh pemimpin yang mementingkan pendidikan. Saya menawarkan kebaruan kepada Indonesia.

Perfekto. Gue merasa terhormat, karena yang menghancurkan teori gue tentang Anies yang mendingan jadi menteri duluk adalah Anies sendiri. Gue, dan semua hadirin, tepuk tangan tanpa ragu.

Isu menarik lain yang dibahas adalah FPI.

 

Apakah FPI perlu dihapus?

Pertanyaan dari twitter yang dibacakan Indra Bekti selaku pemimpin majelis pengadilan itu membuat Anies terdiam beberapa detik. Anies pun berkata (kurang lebih ya),

Saya ini pengikut paham kebebasan berpikir. Saya memuji kebebasan berekpsresi. Saya tidak bisa mengubah cara pikir orang atau perasaan mereka. Saya tidak bisa memaksakan orang lain untuk berpikir dan merasakan seperti apa yang saya pikirkan dan rasakan. Tapi…. (Anies memberikan jeda lagi), sebagai pemimpin, saya bisa mengatur cara orang mengeluarkan ekspresinya. Selama…tidak merugikan pihak manapun, tidak masalah. Asal tidak dengan kekerasan. Karena atas nama kekerasan (Anies tampak begitu menekankan bagian ini), siyapapun dia/mereka, darimanapun asal-usulnya, hukum harus ditegakkan. Dan pemerintah harus turun andil dalam hal ini.

Well. Menurut gue itu cara pikir yang cerdas kalau nggak mau dibilang nggak mau nyari masalah ya. Tapi jujur, gue juga sepikiran begitu. Bener, semua orang berhak melakukan apa yang mereka pahami selama nggak dilakukan dengan kekerasan. Sama halnya semua orang berhak menggunakan pakaian semini apapun dan semaksimal apapun. Atau orang bebas memilih keyakinan hidup yang ingin mereka jalani. Kebebasan berpendapat, kebebasan bekerja, kebebasan berwarganegara bahkan kebebasan memilih pasangan hidup (?) sudah bisa dirasakan semua orang bukan? Yang penting emang tetep dilakukan dengan damai sih ya.

Ahiya, gue jadi inget satu kalimat wejangan dari pembimbing osis waktu sma. Dia bilang wejangan ini ke anak osis-mpk waktu mau ngadain sebuah event. Satu mantra yang rasanya ingin dia berikan ke kami supaya kami tau dan sadar pentingnya mantra ini untuk menjalankan program (dan mungkin menjalani kehidupan) bahwa: perubahan itu keniscayaan. Entah kenapa mantra itu terus nempel ampe sekarang di otak gue. Well, karena gue alamin kali ya. haaha, eniwey, poin gue disini adalah ya semua orang bisa berubah. Orang baik bisa jadi jahat, orang jahat bisa jadi baik, dan atau terus berulang siklus tukar menukar baik-jahat-baik-jahat-baik itu. Doa egois gue sih, gue berharap gue bisa berakhir dalam kebaikan. Jadi nggak maluk-maluk’in gitu waktu ketemu Tuhan. Aamiin. Jadi curcol.

 

Pendapat bapak tentang jokowi? Bapak masih yakin menang?

Jokowi itu orang baik. Dengan makin banyaknya orang-orang baik yang mencalonkan diri menjadi pemimpin negeri ini, tentu itu hal positif yang harus kita syukuri. Negeri ini punya banyak orang baik kok. Lihatlah, sekarang bermunculan kepala-kepala daerah yang baik.

 

Kalau ditawari cawapres gimana pak? Kalau jadi cawapres dari capres yang terlibat dalam peristiwa 1998?

Saya ini fokus menjadi capres, bukan cawapres.

Waktu ngebahas bagian cawapresnya dari capres bapak yang dulu pernah terlibat dalam 1998 itu Anies agak berkelit gaya politikus sih. Tapi yang berkesan di gue, dia nggak menjatuhkan lawan seenak jidat. Tapi keliatan (sok cenayang), dia pasti bingung harus jawab apa mengingat pasti ada media yang siap memasak tiap jawabannya yang mungkin bisa menjadi boomerang untuknya nanti. Well. That’s the political life rite? He know that better.

 

Tentang banjir, apa yang akan bapak lakukan?

Banjir itu bukan bencana. Tapi manajemen air yang buruk.

Gue terpukau dengan jawaban singkat dia itu nggak berlebihan kan? Ah, Pak Anies. Nyadar sih, banjir di Jakarta ya khususnya, ya karena emang rakyat-rakyat Jakarta pada belum secara sadar menyadari pentingnya buang sampah pada tempatnya dan sistem drainase yang…sangat kacau. Lo liat aja, setiap banjir di jalan raya (di Jakarta), banyak banget spot-spot drainase yang tersumbat dan kali yang mengalir dengan memboyong jutaan sampah 3D. Masih bikin fiuh banget emang.Tapi diacara itu, Anies nggak ngasih tau detil teknis rencana dia gimana menangani banjir ini. bukan fokus dia sih ya. Hmm, ya, ya, itu PR buat para kepala daerah juga sih.

 

Darah kumuh di perkotaan bagaimana pak?

Jawaban Anies jeneral, nggak taktis dan teknis (dalih)à ini gue yang lagi gak fokus kayaknya. haaha. Cek vidionya aja ya kalo mau verivikasi.

 

Nasib scientis pak?

Pertanyaannya sih lebih ke tindakan badan pemerintahan untuk lebih menghargai scientis Indonesia. Terus Anies bilang,

Private sector juga justru harus digenjot untuk membawa pulang mahasiswa-mahasiswa Indonesia diluar negeri. Republik ini didirikan oleh kaum intelektual! Dulu, mereka hanya 5% dari rakyat Indonesia. Tapi mereka mau mengurusi 95% saudara mereka yang lain.

Heroik banget nggak sih para 5% itu?

 

Indonesia terkesan lemah terhadap USA, bagaimana Pak Anies bisa tidak takluk kepada USA?

Kalo lo pernah nonton drama jepang Takuya Kimura, Change, lo akan liat kemiripan ide pikir yang dilontarkan Anies saat menjawab pertanyaan ini sama tokoh utama di drama jepang itu. Gue suka banget soalnya sama drama ini (semua dramanya takuya kimura sih gue suka, haaha).

Kenapa harus takut?! Mereka jelas punya kepentingan untuk negaranya. Tentu kita juga harus bergerak untuk kepentingan negara ini. Saya juga punya kepentingan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

 

Action bapak mengurangi korupsi?

Jika saya menjadi presiden, saya akan kumpulkan semua kepala partai politik untuk membahas: bahwa parpol bukanlah tempat mencari nafkah, sumber pendanaan parpol harus jelas, dan struktur parpol harus diubah.

Saat ini sumber pendanaan parpol masih tidak jelas, laporan kegiatannya pun tidak jelas. Begitu juga dengan struktur parpol, rasanya ada banyak sekali anggota dpd, dprd, yang sejujurnya bisa membentuk pemerintahan sendiri, semacam pemerintahan didalam pemerintahan.

Saat ini, kepercayaan masyarakat terhadap politisi sangat rendah. Karenanya saya ingin menunjukkan bahwa menjadi politis itu seharusnya sebuah kehormatan dan posisi yang terhormat secara moral dan memberikan kebanggaan.

 

Bagaimana pendapat bapak tentang pertumbuhan boyband dan girlband di Indonesia?

Lo berharap ekspresi gimana waktu seorang calon presiden ditanyakan perihal macam ini? haaha. Jelas banget, Anies seems lack of concern about this issue. Setelah ketawa-ketawa bingung mau jawab apa, Anies pun bilang, kayaknya saya harus tanya anak saya. Tapi untungnya nggak garing-garing amat karena ditanggapi Indra bekti jadi acaranya ngalir. Anies Cuma nambahain, “yah, bagus, bagus…”

Skakmat juga ya ditanyain pertanyaan yang epik seperti ini.

 

Strategi bapak terhadap bonus demografi?

Gue juga waktu denger pertanyaan ini cuma nanya ke temen gue, eh bonus demografi itu apa? Yah, temen gue yang isinya anak-anak teknik yang bareng gue juga sama cupunya kaya gue. Gue pun gugling, dan ternyata itu yang gue tangkep semacam penambahan penduduk yang berpendidikan tapi belum siap pakai untuk dunia industri gitu.

Kata Anies: “Saya ingin fokus ke 3,3% nya”

Uasem! Cuma itu gan yang ke-record di notes gue. Lupa banget. Yang difokusin pemerintah sekarang tu bukan yang 3,3% nya itu gitu. Tapi damn gue lupa. Mencerahkan banget ya resume (gagal) gue ini.

(Muka lesu), silahkan ditengok lagi di vidionya ya.

 

Kurikulum pendidikan pak!

Saya ingin fokus ke guru. Indonesia membutuhkan lebih banyak guru-guru yang berkompeten. Saya juga ingin fokus pada infrastruktur pendidikan. Jumlah sd itu 168 ribu, smp 39 ribu, dan sms 26 ribu. Solusinya yang saya pikirkan bukan pada penambahan sekolah (Anies langsung ngejawab pertanyaan gue. Karena sewaktu dia memaparkan data jumlah sekolah sekolah itu, gue langsung mikir, bangun sekolah lagi bukannya malah mahal? Gokil ya ybs). Solusinya adalah penggunaan berbarengan, misalnya paginya SD siangnya SMP.

 

Eniwey buat temen temen yang ingin mengadili dan menguliti Anies Baswedan, bisa ditanyakan ke adili@turuntangan.org.

Dari acara ini bener-bener bikin gue pingin ngulitin calon yang lain juga, khususnya di acara-acara live kaya gini. Jadi bisa liat ekspresinya, kesungguhannya, ketidakyakinannya dimana, pola pikirnya, mimiknya, dan layakkah dia memimpin negeri ini? aish. Ajak-ajak gue dong klo ada live discuss kaya gini lagi. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s