BERKUNJUNG KE KAWAN MASA KECIL

suka suka

Hari-hari membawa kabar yang tidak pernah kau ketahui –Rawahah

Aku bergembira karena lebaran tahun ini bisa mengunjungi dua kawan bermain aku kecil dahulu di desa. Salah satunya adalah mbak iis yang masih memiliki hubungan kekerabatan denganku. Kakeknya dari ibunya adalah kakak dari kakekku dari ibuku.

Mbak iis dan suaminya mengunjungiku malam hari-pertama lebaran. Kami berbincang-bincang ini itu. ah, terakhir kali kami bertemu dan berbincang-bincang lama seperti ini rasanya saat dia menikah dulu, sekitar 5 tahun lalu.

Sebagai gantinya, aku mengunjungi rumah baru mereka di desa di perbatasan kabupaten batang dan pekalongan.

Rumah mereka masuk ke pelosok desa. Perumahan, sawah, perumahan, sawah, aku lewati. Hingga kami tiba di ujung jalan di depan sebuah rumah dengan samping kiri kanan depan belakang hanya kebun singkong, pepohonan tinggi, pepohonan campur baur, papaya, rambutan, rumput.

Rumah itu masih terlihat baru, cat-cat rumah dan jendela terlihat masih mencolok bagus. Depan rumah adalah halaman bertanah merah dengan sedikit kerikil-kerikil dan dedaunan yang jatuh tak beraturan. Jemuran teralis dari kayu kayu yang dibuat apa adanya berdiri terpampang tak jauh dari teras, baju-baju yang digantung dan yang di sampirkan terhuyung huyung terkena angin hingga beberapa helai jatuh ke tanah. Di depan tanah merah itu adalah paving block selebar dua meter, diikuti pepohonan campur baur sampai batas cakrawala pemandangan. Di kiri rumah terbentang ladang singkong yang batangnya sudah tinggi melebihi tinggi rata-rata manusia. Dan satu kursi kayu putih panjang cantik berada di teras samping rumah itu. Dibelakang, di ciptakan peternakan ayam, entok dan angsa disusul pohon pohon tinggi.

Aku dan mbak iis berdiri di muka pintu belakang, kami bersender pada bagian pintu yang setinggi dada, “aku e rencanya pingin bikin taman-taman gitu nanti disitu”

Katanya menunjuk ke arah area peterkanakan dengan matanya. “Terus ayam ayam sama entoknya bisa berkeliaran di taman itu” imbuhnya dengan logat jawa semarang yang halus. Hidungnya  yang mancung dan wajahnya yang tirus membuat aura ia bercerita begitu enak didengar dan dilihat. (Ngaruh emang kalo yang ngomong itu orangnya enak diliat ya).

Di kanan rumah juga pohon pohon tinggi berjarak sampai batas cakrawala. Menembus pepohonan itu, konon katanya sungai besar mengalir. Tapi mbak iis pun belum pernah menelusurinya.

Suara angin terus mengayun ayun pepohonan nyaring terdengar. Pepohonan singkong yang tinggi tipis bergerak mengikuti arah angin. Bunyi bunyi daun yang saling bergesek was wus tak berhenti ikut menggemuruhkan relung jiwaku.  Terisi penuh. Ah nikmatnya suara alam.

Angin angin itu juga memasuki celah celah jendela dan pintu rumah yang terbuka, menciptakan suasana damai dan rasa ingin tidur.

Tempat ini sempurna adalah desanya desa. Lebih desa dari desaku yang sudah ramai. Tapi aku percaya, pasti masih ada lagi desanya desanya desanya desa di negaraku ini.

Hikmah (?) berkunjung

Berada dirumah mereka selain menjadikan badan berada di zona istirahat  (yang akhirnya zona galauw) juga membuatku berimajinasi rumah masa depan(ku). Sebuah rumah di desa dimana aku merawat kehamilanku dan membesarkan anak anakku. Terlalu lama di kota rasanya tidak bagus juga untuk kesehatan fisik dan jiwa. Ah, cita-citaku sebenarnya mungkin sederhana, mungkin bukan merintis karir sebagai apa yang aku bingungkan antara piping layout engineer atau food engineer, dan mencapai gelar master di amerika. Tapi mungkin sebenarnya begitu sederhana tapi justru tidak mudah, menjadi ibu rumah tangga. #gesekan biola

Keluarga ini

Mengetahui mbak iis dan suaminya adalah seorang perawat, warga tak jarang berdatangan ke rumah mereka untuk sekadar bertanya-tanya jika ada keluh kesah kesehatan. Mereka pun akhirnya mengubah salah satu ruangan yang awalnya ingin mereka jadikan ruang makan menjadi ruang periksa lengkap dengan satu kasur cek, kursi dan meja dan kotak kotak stetoskop. Simpelnya berbuat untuk orang lain.

Aku sebenarnya ingin membahas rencana mereka memiliki keturunan. Lima tahun jalan pernikahan tanpa membuahkan keturunan adalah ujian pastinya. Aku tidak bertanya apa mereka berprogram belum ingin memiliki anak atau memang belum diberikan. Isu yang sensitive. Aku tidak akan membicarakan hal itu kecuali jika mereka yang memulainya. Tapi mereka pun tidak membahasnya dan mereka terlihat rukun dan damai. Rasanya itu cukup aku ketahui.

Solat zuhur hari itu di musola rumah mereka aku berdoa agar mbak iis dan mas rosyin diberikan yang terbaik dari Alloh apapun itu, selalu diberikan kekuatan dan kesolehan. Ah aku ternyata memang berhati mulia sekali.

Hari-hari membawa kabar yang tidak pernah kau ketahui. Semuanya adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus selalu disyukuri. Tidak mudah memang. Tidak apa apa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s