wawancara lpdp – 11 feb 2016

Menuju Ameriki

raw materials/kisi kisi untuk temen temen ane deci graduate & geng back to skul  & lgd20c /siapapun yg mauk. untuk keperluan express, nggak ane edit yak. mau napas duluk. (versi udah sedikit di edit)

Aku  menegapkan badan berjalan membawa dua jinjingan tas, satu berisi 5 buku yang ingin aku pamerkan kepada para interviewer, satu lagi tas utama ku yang berisi tak perlu kuceritakan lah ya. Aku hanya menatap kedepan berjalan kearah panggung melalui jalur tengah. Aku tidak memerhatikan meja-meja yang aku lalui berisi puluhan kelompok kelompok interview lain yang sedang melakukan drama interview yang mungkin menciptakan kebaperan, air mata, adu domba, atau mencari cari kebohongan tujuan kenapa mau sekolah tinggi. Pun aku tak menatap ke arah meja di mana aku akan di sidak. –Yang aku tahu, aku harus menuju meja no.22. Aku sudah persiapkan banyak untuk interview ini. Aku pun sudah menggunakan kerudung favoritku yang kubeli di depan masjid nabawi setahun lalu (keren g sik. visioner (?) abis. pamer) yang rencananya mau aku pake pas lamaran sama aa’ (tapi aa’ nya nggak ngelamar-ngelamar, yaudah ane pake buat ngelamar beasiswa aja..kali kali berkah madinah nya masih nempel, musryik sih itu ya, euw. miris. ahahaa). Yang pasti, tinggal Tuhan yang menggerakkan bagaimana lisanku berbicara dihadapan tiga interviewer imoet dan lutju yang kini aku sudah berada dihadapannya.

_________________________________________________

 

uda salam sapa cepika cepiki sok asik sama interviewer, dan duduk manis.

“baik santi, saya dari itb” kata bapak yang duduk di tengah.

“saya dari its” kata bapak di sebelah kanan.

“saya dari ugm” kata ibu di sebelah kiri.

Santi: (Surprisingly, mereka tidak menggunakan bhs inggris. Was it a trap?)

Itb: oke, sekarang kita mulai ya. Untuk keperluan lpdp, interview ini akan di rekam.

Santi: oh saya perlu maju lagi mungkin pak? (reflex menggerakkan badan untuk memajukan kursi dan meja. Ceritanya sigap)

Itb: nggak perlu nggak perlu, nanti saya malah kabur. (sambil mencondongkan badannya kebelakang seperti takut santi serang).

Ber4: (tertawa)

Itb: santi tolong ceritakan tentang diri kamu, mau kuliah kemana, kenapa ambil itu, dan kedepanny mau ngapain?

Santi: (eng ing eng, jawab pake bahasa apa ya. Mikir sambil angguk angguk ramah (mungkin) mendengarkan pertanyaan yang langsung berentet itu) kayakya lebih enak pake Bahasa Indonesia ya pak. (lebih bonding dan dekat. Ah, satu Bahasa  itu memang pengikat jiwa pikir santi bukan untuk berdalih jawaban itu baginya lho. pfft)

Its: ya, yaa…boleeh (aura ramah)

Santi : eh tapi I try to speak english deh pak (dia emang udah pingin speak in English sesungguhnya. Karena imel dari lpdp menyatakan interview dilakukan dalam Bahasa inggris. Tapi ia sekaligus ingin merasa berbicara lebih dekat dengan Bahasa Indonesia kpd interviewer. serakah sekali santi memang.)

Its: yaya boleh juga…

Santi : (tangan di meja lalu bergerak gerak saat berbicara) although I was born in pekalongan, I grew up in Jakarta for almost 12 years. (jeda, sambil membuat contact eye dengan ketiga interviewer dan memasang muka ramah andalan: senyum terbuka gigi keliatan). My mother had shaped me to a person who would like to contribute to a community. My first contribution was to participate in a dance competition among kindergarten student.

Its: (tertawa positif menunjukkan aura terhibur)

Santi: (gain a more confidence)……….f%%%$###@#&&#$%^%^&&&…(santi menceritakan prestasi dan kontribusi unggulan dari sd sampe sma. Tepat ketika menceritakan kontribusi di karang taruna rumah tempat tinggal, Its memotong)

Its: (angkat tangan santai dan berbicara ramah), ceritanya langsung dari kisah undergraduate saja waktu kita kan juga terbatas ya.

Santi: (well abis ini langsung ke undergraduate sik, pikir santi. Ia kemudian meminta maaf tersenyum lebar mesem mesem. Dan menceritakan researchnya. kenapa akhirnya memutuskan ke DECI dan mengambil s2 di construction management. NGGAK LINIER banget. Sasaran empuk ini mah. Sudah diperhitungkan. Santi sudah punya jawaban jawaban andalan, tapi tidak semuanya ia ceritakan. Agak dodol. Skip banget dia, termasuk buku yang ingin ia pamerkan pun sekip tak dia pamerkan. Kelamaan story di tentang diri kamu sik tadik. Yang penting future plan malah nggak dalem dijelasin).

Itb: plan kamu ini nggak jelas

Its: kamu sebenerya mau ngapain abis lulus s2?

Santi : (tersenyum positif elegan  mengangguk angguk), future plan saya ingin terlibat di industri kontruksi.

Its: pingin balik ke dsme?

Santi: tidak

Itb dan its: (shock berjamaah), kenapa kok gabalik? Terus maunya kemana?

Santi: dsme saat ini lebih banyak mengerjakan  proyek dari our mother company (Bahasa campur campur ala ala). Proyek yang kami lakukan semuanya adalah proyek diluar. Honestly, peran dsme untuk Indonesia sejauh ini secara langsung adalah baru membuka lapangan pekerjaan. (santi elaborate dari jawaban temennya yang udah lolos lpdp ketika ditanya apa peran dsme untuk Indonesia).

Itb: tapi rencana studi kamu ini nggak jelas. Nggak menuliskan semester berapa ambil apa.

Santi : (siyok. Nulis ah, pikirnys. Kan Cuma itu isi essaynya, rencana ambil apa aja). mmm…saya nulis deh kayaknya pak, kurang detil ya? (santi pun menjelaskan kembali mata kuliah yang ingin dia ambil.)

Its: sudah kontak profesrornya?

Santi: sudah pak, lewat linkedin.

Its: sudah berbicara tema temanya?

Santi: belum pak.

Itb: baru dianggap jadi teman dia pak.

Santi: (angguk angguk tersenyum) iya pak. (kemudian dia mikir, gue kan non thesis program, harusnya gue tekankan itu lagi tadik TT. Pikir santi setelah selesai wawancara. Doh)

Its: gini gini, jadi pingin di perusahaan apa? Ada contohnya?

Santi: (itu baru mau dia jelasin juga). XX atau XY, pak.

Its: loh, kamu tau XY, yang ada di bandung itu? (takjub kayanya)

Santi: di karet Jakarta juga ada kok pak (yang santi tau malah yang di karet). XY ikut bikin power plant untuk mendukung program Jokowi 35000 MW di batang. Karena itu saya tertarik untuk terlibat di XX atau XY.

Ketiga interviewer: (angguk angguk).

Itb: kamu dari pekalongan sebelah mana?

Santi: sragi, pak.

Itb: pekalongan coret itu mah.

Its: dari pekalongan juga dia.

Santi: ohiya, bapak pekalongannya dimana?

Itb: saya mah pekalongan kota.

Ber4: (tertawa)

Ugm: (yang sepertinya ibu sikologi. Ibu ini tidak banyak bertanya. Santi melihat binar binar kepuasan akan jawaban-jawaban santi saat menceritakan kisah hidupnya di awal. Mungkin baginya itu cukup). Kamu kan punya semangat yang tinggi untuk berpendidikan. Apa sih value yang ditanamakan di keluarga kamu sehingga kamu mau terus berpndidikan tinggi. Kalau saya liat kan orangtua kamu nggak tinggi tinggi amat sekolahnya.

Santi: (tetap tersenyum elegan sebelum menjawab), iya bu. Ayah saya selalu mengajarkan matematika sejak kecil dan berfikir logis mungkin itu yang membuat saya cukup bersinar dalam mamtematika. Kalau ibu saya menjadi…mm…pihak yang mensupport saya untuk mengikuti berbagai perlombaan. Namun selain itu, saya juga terinspirasi dari berbagai buku yang pernah saya baca…salah satu yang menginspirasi saya adalah tetralogy pulau buru nya pramoedya.

Its: wah bacaan kamu berat yaa…

Santi: salah satunya aja kok pak (nyengir). (kembali menatap ibu ugm). Cerita pendewasaan minke dalam cerita itu menginspirasi saya untuk terus maju….%%^^#&#$%&% (summary tentang minke)

Ugm: (menurut mata santi, ibu ugm itu angguk angguk senyum kagum. Owhyeah, the power of minke. Seems kaya gitu sik. semowgaa)

Itb: hmmm….kamu sudah punya pacar?

Santi: belum pak.

itb: kalau ketemu disana gimana?

Santi: selama ini saya selalu bisa menjaga tanggung jawab saya. Seperti saat kuliah di itb pun, semuanya berjalan lancar.

Its: ah itu mah belum ketemu ajaa.

Santi: (tertawa elegan (?)), kalau ada ya gapapa juga si pak. Tapi mungkin keputusan berkomitmen bisa setelah saya menyelesaikan tanggung jawab saya terlebih dahulu.

Ugm: (angguk angguk).

Its: biasanya sih kalua umur 20an, nanyanya siapa kamu. Kalua udah 30an, siapa aja boleh…

B4: tertawa.

Ugm: santi, kalau kamu tidak mendapatkan lpdp gimana?

Santi: (muka mikir) hmmm…..(santi bergumam tapi masi berpikir sejenak. ia tau ia membutuhkan LPDP. kalimat seperti apa yang sebaiknya dikatakan. ini salah satu pertanyaan yang tidak disiapkan dengan baik menurutnya. ia hanya mengingat satu artikel tentang kisah penerima LPDP yang juga pernah ditanyai hal ini. penerima  itu menyatakan bahwa ia harus terlihat memiliki rencana yang jelas dengan memiliki plan B. agar tidak terlihat lama berfikir dan memutuskan, santi menjawab dengan jawaban diplomatis memutar yang malah ditertawakan salah satu interviewer. wkk) saya merasa bahwa visi lpdp….

itb: (tertawa sambil menyenderkan badannya kekkursi tepat ketika santi mengatakan visi lpdp)

santi: (o man! did i say something fishy?! euw, berusaha tetap fokus meski sempat terdistract. bapaknya ngeselin banget. ahaha. santi pun mengulangi kalimatnya) saya merasa bahwa visi lpdp sejalan dengan visi saya di masa depan untuk membangun indonesia. saya sangat sedih jika tidak mendapatkan beasiswa ini. tapi jika begitu, saya akan tetap mencari alternatif beasiswa lain.

ketiga interviewer: (angguk angguk)

selesai.

sungkeman kepada ketiga interviewer dan mengucapkan terima kasih.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s