marah marah nggak marah marah

suka suka

Rasa marah cukup membingungkan. Aku heran kenapa aku tidak marah besar saat mbak-mbak penawar kartu kredit salah satu bank di indonesia malah menyalahkanku melalui whatssapp karena kartu NPWP ku ketinggalan di booth mereka dan menyalahkanku kedua kalinya karena tidak mengambilnya segera. Saat pesan itu aku baca, aku sedang menyelesaikan personal statemen ku di salah satu warung kerja favoritku (di kalcit). Aku tidak ambil banyak pikir kepada mbak mbak itu dengan tidak membalas pesan itu meledak ledak. Padahal biasanyanya aku mudah marah atau protes dan meledak ledak untuk hal hal sepele.

Seperti aku yang muak dengan salah satu adik kelas di kampus yang kami bertemu tanpa sengaja di sebuah interview beasiswa. Aku merasa familiar dengan wajahnya. Sekali melihatnya aku tidak menyapanya. Tapi ia pun tak melihat ke arahku meski kami sempat bertatap mata. Tapi kemudian kami bertemu lagi dalam kondisi sempit yang memungkinkan untuk menyapa. Setelah kusapa terlebih dahulu memastikan bahwa ia si adik kelas yang aku juga tak tahu namanya, dia langsung bersikap ramah seperti sales. Ohiya kaak…apa kaaabaar? Yaampuun..euw. bikin males. Aku kasi tau namaku in case dia juga lupa namaku. Tapi kemudian ia mengangguk-angguk sambil mengatakan iya kaak tau. Then, wot? Dia tau tapi tadi diem diem aja. Minta di peres (hobi salah satu temen kantorku klo lagi marah, meres baju, ahaha). Tapi karena mau iview ya aku nggak terlalu masalah sik. Tapi masih keinget sampe sekarang. Haha. Sedangkan mbak mbak yang jelas-jelas nyalahin melalui wasap dengan potongan kalimat, “mbak yang salah sih…” euw. Well, untung saja aku lagi fokus dengan tetekbengek personal statemen, jadi nggak aku gubris, meskipun jadi bikin pingin ngebatalin mau daftar CC di sana, cuma sebatas pengen sih, nggak mau beneran soalnya selama ini dua kali apply cc ditolak, ahaha. Tapi aku bingung juga siy, kok bisa ya aku nggak peduli dengan umpatan mbaknya. Yang jelas, aku tidak sedang peka dipojokkan. Sehingga aku berkesimpulan bahwa ya, rasa marah itu situasional.

Kemudian pun aku coba cari tahu tentang rasa marah itu. Ia seperti rasa rasa yang lain, juga diatur oleh hormon, kali ini testosteron. Produksi testosterone ini mungkin tidak meningkat drastis saat aku disalahkan mbak mbak itu. Hormon lain yang mengatur kefokusan mungkin yang sedang bekerja. Yang jelas aku sedang tidak bahagia-bahagia amat dan tidak sedang jatuh cinta. Serotonin aku harusnya tidak begitu berlimpah sehingga bisa menutupi testosteron. Hormon yang meniadakan dan tidak memunculkan kemarahanku tadi aku yakin, hormon bekerja (?) menyelesaikan personal statemen. Ahaha. Well, however, agama pun mengajarkan bahwa marah juga diperbolehkan, marah yang tepat. You must have an ability to define the acceptable anger. Wkk, dalih gamau ngasih contoh. Meski demikian, salah satu kriteria orang bertakwa menurut .QS Ali Imran 134, adalah orang yang bisa menahan amarahnya.

So, jangan marah ya! Atau marah yang keren lah!

Tetep ganteng dan soleh saat marah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s